HUBUNGAN PEMBAGIAN KERJA DAN WEWENANG KARYAWAN TERHADAP PRESTASI KERJA PADA BANK BUKOPIN CABANG PALEMBANG BULAN MEI 2007

BAB I

PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang Masalah

Perusahaan pada hakekatanya terdiri dari kumpulan orang-orang  dan peralatan operasionalnya. Sehingga upaya pencapaian tujuan dalam memaksimalkan keuntungan dan berhasil atau tidaknya suatu misi perusahaan untuk mencapai tujuan ditentukan oleh individu-individu yang menjalankan manajemen yang dilaksanakan perusahaan.

Masalah Manajemen itu akan selalu ada bila perusahaan masih menjalankan aktivitasnya. Jadi manajemen sangat penting bagi seorang manajer dalam menentukan otoritas tertinggi untuk menggerakkan karyawan. Agar dapat melakukan  aktivitas atau bekerja secara efektif bagi perusahaan demi tercapainya tujuan yang telah ditentukan. Seorang  manajer dalam menggerakkan orang-orang untuk mendapatkan sesuatu haruslah mempunyai ilmu  pengetahuan dan seni, agar orang mau melakukannya. Untuk itulah diperlukan suatu wadah yang dapat menghimpun setiap orang, wadah itulah yang disebut dengan organisasi.(Abdul Syani, 1987)

1

Organisasi  itu sendiri merupakan alat yang  paling berhubungan dengan satuan-satuan kerja, yang diberikan kepada orang-orang yang ditempatkan dalam struktur wewenang. Sehingga pekerjaan yang akan dilaksanakan dapat dikoordinasikan  oleh perintah para atasan kepada bawahan dari bagian puncak manajemen sampai kebawah dari seluruh unit/bagian.

Perusahaan  yang mempunyai organisasi yang baik dan teratur kemungkinan  besar tidak akan mengalami hambatan-hambatan dalam mengerjakan tugasnya dengan efektif (sebaiknya/semaksimal mungkin). Dan begitu pula sebaliknya bila perusahaan tidak mempunyai organisasi yang baik dan teratur. Sehingga dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan yang diberikan oleh pimpinan kepada  bawahan akan mengalami hambatan. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya rasa tanggung jawab dalam melaksanakan tugas yang diberikan  oleh pimpinan kepada bawahan.

Hubungan organisasi itu sangat penting bagi karyawan untuk melakukan tugasnya  sehingga  dapat mencapai efektivitas kerja karyawan yang diinginkan oleh pihak perusahaan,  bila organisasi itu berjalan dengan baik pada perusahaan itu maka  karyawan secara tidak langsung dapat melakukan tugasnya dengan semaksimal mungkin. Sehingga akan berdampak bagi kelangsungan dan perkembangan perusahaan untuk mencapai tujuan dan dapat bersaing  dengan perusahaan lain. Karena itu bagi seorang pimpinan harus mampu untuk menggerakkan   karyawan  dalam melaksanakan pekerjaannya. Disamping  itu juga pemimpin harus dapat mengatasi semua masalah yang ada pada perusahaan tersebut sebaik mungkin.(Sarwoto, 1989)

PT Bank Bukopin Cabang Palembang adalah salah satu badan usaha yang kegiatannya bergerak dibidang  jasa perbankan. Yang berusaha agar tetap hidup dan  berkembang sehingga dapat mencapai tujuan atau keuntungan serta tujuannya yang lain adalah dapat  melayani dan memenuhi keinginan masyarakat sebaik mungkin.

Dalam melaksanakan kegiatannya PT Bank Bukopin Cabang Palembang ini menginginkan agar semua   karyawan dapat melakukan pekerjaan atau tugas dengan  baik. Tapi dalam hal ini PT Bank Bukopin masih mengalami suatu masalah atau hambatan yaiu bagian atau  unit kerja Back Office yang mempunyai sub-bagian kliring, bagian kontrol, bagian administrasi kredit, bagian transfer, bagian pajak, bagian deposito, bagian sundris.

Pada bagian  atau unit kerja ini terlihat masih adanya pembagian kerja yang kurang baik, dimana  suatu pekerjaan yang dikerjakan oleh seorang karyawan bagian administrasi kredit melakukan juga pekerjaan bagian transfer, sehingga  menyebabkan karyawan  tersbeut tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya sesuai jadwal yang ditentukan  dan sering terjadi penundaan pekerjaan sehingga bedampak pada lambatanya  pelayanan bagian administrasi kredit pada PT Bank Bukopin Cabang Palembang terhadap nasabah, sehingga nasabah merasa   tidak pusa terhadap  pelayanan tersebut. Ini berarti masih adanya perangkapan pelaksanaan tugas dari pembagian kerja tersebut. Sehingga  fungsi dari organisasi  yang sesungguhnya itu kuag berjalan dengan baik  atau semestinya. Seharusnya bagian  administrasi kredit melakukan tugasnya sendiri dan bagian transfer dilakukan  oleh karyawan tersendiri.   Karena pada masing-masing   tugas memerlukan waktu dan konsentrasi dalam melaksanakan   pekerjaan tersebut selesai secara maksimal. Dengan kata lain karyawan dapat bekerja secara  efektif  bila karyawan melakukan pekerjaan sesuai dengan pembagian kerja yang baik.

Serta masih kurang tegas dan luasnya pimpinan dalam  memberikan pendelegasian wewenang kepada bawahan. Dalam hal ini  pimpinan masih turut campur dalam pelaksanaan pekerjaan. Sehingga manajer operasi pada saat membuat suatu  keputusan tidak dapat membuat keputusan itu sendiri dengan cepat dan mengakibatkan terhambatnya kegiatan operasional perusahaan yang lain tertunda. Akibatnya aktivitas kerja di dalam perusahaan tersebut  mengalami kemacetan dan  sangat jelas berdampak merugikan perusahaan. Selain itu juga mengakibatkan  timbulnya karyawan tersebut menjadi merasa tidak dipercaya dan tida dapat   melakukan pekerjaan dalam melaksanakan tugas yang sebelumnya telah diserahkan kepadat.

Di karenakan pembagian  kerja dan pendelegasian wewenang itu sangat  penting. Penulis  melihat  hal tersebut merupakan masalah penting bagi kelangsungan  hidup organisasi   perusahaan, terutama bagi karyawa dalam menjalankan tugasnya dengan efektif.

Karena masalah  tersebut sangat penting bagi  pelaksanaan atau aktivitas kerja untuk mencapai tujuan perusahaan maka penulis tertarik meneliti masalah tersebut yang terjadi pada PT Bank Bukopin yaitu dengan judul “HUBUNGAN PEMBAGIAN KERJA DAN WEWENANG KARYAWAN TERHADAP PRESTASI KERJA PADA BANK BUKOPIN  CABANG  PALEMBANG BULAN MEI 2007.”

1.2  Perumusan Masalah

  1. Apakah ada hubungan pembagian kerja dan wewenang karyawan secara simultan terhadap prestasi kerja karyawan ?
  2. Apakah ada hubungan secara partial pembagian kerja dengan prestasi kerja karyawan ?
  3. Apakah ada hubungan secara partial wewenang karyawan dengan prestasi kerja karyawan ?

1.3  Tujuan Penelitian

1.3.1   Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan pembagian kerja dan wewenang karyawan terhadap prestasi kerja karyawan  pada PT. Bank Bukopin Palembang.

1.3.2.         Tujuan Khusus

  1. Diketahuinya hubungan pembagian kerja terhadap prstasi kerja karyawan pada PT. Bank Bukopin  Palembang.
  2. Diketahuinya hubungan wewenang karyawan terhadap prestasi kerja karyawan pada PT. Bank Bukopin Palembang

 

 

 

 

 

1.4  Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian diharapkan:

1.4.1    Bagi Peneliti

Untuk membandingkan antara teori yang didapat dikelas dengan praktek yang dijalan kan perusahaan.

            Bagi PT.Bank Bukopin, Palembang

Memperoleh informasi didalam menilai hubungan pembagian kerja  wewenang wewenang kerja terhadap prestasi kerja kaeyawan

1.4.3.   Bagi Universitas Kader Bangsa

Untuk memberikan wawasan pengetahuan tambahan dan sebagai masukan bagi rekan-rekan mahasiswa di Universitas Kader Bangsa Palembang.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1               Pengertian Manajemen

Dalam   menguraikan  definisi manajemen ini, masing-masing pegarang  mempunyai tafsiran yang berbeda tergantung dari pendekatan yang digunakan oleh pengang itu. Beberapa pengarang mendefinisikan manajemen  dengan menekan  kepada manajemen sebagai seni,  ilmu atau profesi, walaupun demikian jika disimak  dari beberapa pendekatan tersebut pada prinsipnya sama.

Yaitu agar terdapat  tata kerja yang baik  di dalam suatu organisasi sehingga  tujuan-tujuan yang ditetapkan dapat tercapai. Setiap manusia  dalam perjalanan hidupnya selalu menjadi anggota dari beberapa  macam organisasi, seperti  organisasi sekolah, perkumpulan olahraga, kelompok musik, militer  ataupun organisasi perusahaan. Organisasi-organisasi ini mempunyai kesamaan dasar  walaupun dapat berbeda satu dengan  yang lain dalam  beberapa hal. Dari sini terlihat bahwa daam mengelola suatu organisasi itu mereka harus melakukannya secara profesional ataupun secara sederhana.

7

Ini menunjukkan bahwa ilmu manajemen bersifat universal, dan mempergunakan kerangka ilmu pengetahuan yang sistematis, mencakup kaidah-kaidah, prinsip-prinsip dan konsep-konsep  yang cenderung benar dalam semua situasis manajerial. Hal ini terbukti bahwa ilmu manajemen dapat diterapkan dalam semua  organisasi manusia, seperti perusahaan, pemerintah, pendidikan, sosial, keagamaan dan lain-lain.

Manajemen dibutuhkan oleh semua organisasi, karena  tanpa manajemen, semua usaha sia-sia dan pencapaian tujuan akan lebih sulit. Disini jelas bahwa manajemen sangatlah dibutuhkan dalam sutau organisasi.

Pendapat dari para ahli yang menyatakan pengertian  manajemen antara lain:

Menurut( James. A. F Stoner, 1996)

“ Manajemen adalah  proses perencanaan, pengorganisasian, pemimpinan dan pengendalian upaya anggota organisasi dan penggunaan semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan   yang telah ditetapkan.”

Sedangkan menurut (The Liang Gie, 1982)

“ Manajemen adalah unsur yang merupakan rangkaian perbuatan menggerakkan karyawan-karyawan dan mengarahkan segenap  fasilitas kerja agar tujuan organisasi  yang bersangkutan benar-benar tercapai.”

Menurut (T.Hani Handoko, 1998) alasan utama diperlukannya manajemen, yaitu :

  1. Untuk mencapai tujuan. Manajemen  dibutuhkan untuk mencapai  tujuan  organisasi dan pribadi.
  2. Untuk menjaga keseimbangan diantara tujuan-tujuan yang sangatt   bertentangan. Manejemen  dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan  antara tujuan-tujuan, sasaran-sasaran dan kegiatan yang saling bertentangan dari pihak-pihak yang  berkepentingann dalam organisasi, seperti pemilik dan karyawan , maupun kreditur, pelangan,  supplier, serikat kerja, asosiasi perdagangan, masyarakat dan pemerintah.
  3. Untuk mencapai efisiensi dan efektivitas. Suatu kerja organisasi dapat diukur dengan banyak cara berbeda. Salah satu cara umum dalah efisiensi dan efektivitas.

Dari uraian di atas terlihat bahwa salah satu ilmu manajemen digunakan untuk mencapai tujuan, menjaga keseimbangan dan efisiensi dan efektivitas. Jadi di sin menurut (James.A.F.Stoner, 1996) terlihat bahwa ilmu manajemen bolehdikatakan suatu  seni.

“ Manajemen sebagai seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain.”

Definisi ini mengandung  arti bahwa para manajer mencapai tujuan-tujuan organisasi melalui pengaturan orang-orang lain untuk melaksanakan  berbagai  tugas yang mungkin diperlukan atau berarti dengan tidak melakukan tugas-tugas itu sendiri. Para pakar ekonomi mengatakan bahawa manajemen itu mempunyai arti yang sangat luas, sehingga dalam kenyataannya tidak ada definisi yang digunakan  secara  konsisten oleh semua orang.

Sedangkan (George R. Terry,1994) menyatakan sebagai berikut :

“ Manajemen sebagai seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain.”

“Manajemen merupakan sebuah proses yang khas, yang  terdiri dari tindakan-tindakan : perencanaan, pengorganisasian, menggerakkan dan pengawasan, yang dilakukan untuk menentukan serta amencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumber-sumber daya manusia serta sumber-sumber lain.”

Dari definisi di atas bahwa  ada yang mengatakan bahwa manajemen itu adalah seni dan proses. Manajemen  dikatakan  sebagai seni karena mengandung arti bahwa hal itu  adalah kemampuan atau keterampilan pribadi. Sedangkan manajemen dikatakan sebagai suatu proses karena ada cara sistematis untuk melakukan pekerjaan atau karena manaje tanpa memperdulikan kecakapan atau keterampilan khusus mereka. Harus melaskanakan kegiatan tertentuyang saling bersangkutan untuk tujuan yang mereka inginkan.

Dari uraian diatas menunjukkan juga bahwa para manajer menggunakan semua sumber daya organisasim keuangan, peralatan dan informasi seperti halnya orang dalam pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Orang atau manusia adalah sumber daya yang  terpenting bagi setiap organisasi, tetapi  para manajer tidak akan daapat mencapai tujuan secara optimal bila mereka mengaikan sumber daya organisasi lainnya.

2.2               Pengertian Organisasi

Di dalam usaha untuk mencapai tujuan tertentu maka manusia harus bekerja sama dengan pihak lainnya yaitu dengan beroarganisasi. Dengan adanya organisasi mengakibatkan adanya pembagian kerja antara kelompok orang-orang yang bekerja sama.

Dalam organisasi yang kecil, pembagian kerjanya tidak begitu terlihat, tapi seblaiknya pada organisasi yang benar nampak jelas pembagian kerjanya dalam  struktur oleh sebab  itu  dalam struktur organisasi harus secara jelas  tercermin adanya pembagian kerja.

Dengan demikian kegiatan-kegiatan di dalam organisasi dengan berjalan sebagimana mestinya guna mewujudkan tujuan yang hendak dicapai. Pendapat yang mengemukakan pengertian organisasi antara lain:

Pendapat (Sondang P. Siagian, 1986) :

“Organisasi adalah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerjasa sama untuk mencapai  suatu tujuan bersama dan terikat secara formal  dalam suatu ikatan hirarki dimana sellau terdapat hubungan antara seseorang atau sekelompok  orang yang disebut pimpinan dan seorang atau sekelompok orang yang disebut bawahan.”

Sedangkan menurut (James L. Gibson, 1991) :

“ Organisasi adalah kesatuan yang memungkinan masyarakat mencapai tujuan yang tidak dapat  dicapai individu secara perorangan.”

Menurut (Leonard D White, 1979) memberikan 2 pengertian yaitu :

a)      Organisasi adalah pola hubungan yang ditetapkan secara formil oleh hukum  dan top manajemen  (organisasi formil)

b)      Organisasi adala  sejumlah tata hubungan kerjasama antara sejumlah orang dalam suatu jangka waku yang panjang (organisasi informal).

Dari definisi atau pengertian yang telah  penulis kemukakan di atas, dapatlah diambil kesimpulan bahwa unsur-usnur dasar daripada organisasi adalah :

  1. Adanya dua orang atau lebih.
  2. Adanya maksud untuk berkerja sama
  3. Adanya pengauran hubungan
  4. Adanya tujuan yang hendak dicapai

Berdasarkan unsur-unsur dasar di atas maka organisasi pada pokoknya adalah sekelompok manusia, dengan sengaja dipesatukan dalam suatu kerjasama yang efisien dan efektif untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan

Dari uraian ini ada tiga unsur yang menonjol yaitu :

  1. Organisasi bukanlah suatu tujuan melainkan suatu alat untuk mencapai tujuan
  2. Organisasi adalah wadah serta proses kerja sama dari   sejumlah manusia yang terikat hubungan formal.
  3. Dengan adanya organisasi, bukan berarti manusia tergantung pada orang lain akan tetapi dengan adanya keterlibatan orang lain mempunyai manfaat  yang lebih positif yaitu dapat mempermudah usaha manusia dalam mencapai tujuan.

2.2.1        Prinsip-prinsip Organisasi

Menurut (.Manullang, 1994) Agar suatu  organisasi dapat berjalan dengan baik atau dalam rangka membentuk suatu organisai yang baik atau dalam usaha organisasi perlu kita perhatikan beberapa prinsip-prinsip organisasi   sebagai berikut :

  1. Perumusan tujuan yang jelas
  2. Pembagian kerja dan Delegasi Kekuasaan
  3. Rentang kekuasan
  4. Tingkatan-tingkatan pengawasan
  5. Kesatuan perintah dan tanggung jawab.
  6. Koordinasi

Perumusan  tujuan yang jelas.

Bila akan melakukan sesuatu aktivitas, amka pertama-tama harus jelas ialah apakah tujuan akativitas tersebut. Demikian pula kita mengroganiser atau membuat suatu skema organisasi atau membentuk suatu badan, maka pertama-tama harus jelas apa yang menjadi tujuannya. Bagi suatu benda, tujuan itu akan berperan sebagai:

  1. Pedoman ke arah  mana organisasi itu akan dibawa
  2. Landaan bagi organisasi yang bersangkutan
  3. Menentukan macam aktivitas yang akan dilakukan dan
  4. Menentukan program, prosedur dan kiss me (koordinasi, integrasi, simplikasi, sinkronisasi dan mekanisasi).

Pembagian kerja

Di dalam sebuah organisasi, pembagian kerja atau tugas  pekerjaan adalah keharusan mutlak tanpa itu kemungkinan terjadinya tumpang tindih menjadi  amat besar. Pembahagian tugas pekerjaan pada akhirnya akan menghasilkan departemen-departemen dan job description  dari masing-masing departemen sampai unit-unit terkecil dalam organisasi. Dengan pembahagian tugas pekerjaan, ditetapkan sekaligus susunn organisasi (struktur organisasi), ugas dan fungsi-fungsi masing-masing unit dalam organisasi, hubungan-hubungan serta wewenang masing-masing unit organisasi.

Pembagian tugas saja perlu dilihat dari manfaat yang diperoleh dari penerapan spesialisasi, tetapi pula dalam rangka mewujudkan penempatan orangn yang tepat pada jabatan  yang tepat dan pula dalam mempermudah pengawasan oleh atasan.

Delegasi Kekuasaan

Salah satu prinsip pokok dalam setiap organisasi adalah delegasi kekuasaan. Kepada setiap pejabat harus didelagsikan kekuasaan, atau wewenang  yang perlu ahar pejabat tersebut dapat melaskanakan tugasnya sebaik-baiknya. Wewenang atau kekuasaan itu mempunyai aspek, antara lain wewenang mengambil keputusan, wewenang menggunakan peralatan, bahan dan uang, wewenang memerintah, wewenang pemakaian waktu tertentu dan alain sebagainya.

Delegasi kekusaan merupakan keahlian pimpinan yang penting dan elementer sebab dengan dlegasi kekusaan, seorang pemipin dapat melipat gandakan waktu, perhatian dan pengetahuannya yang terbatas. Bahkan dapat dikatakan, delegasi kekusaan merupakan salah satu jalan utama bagi setiap pemimpin untuk percaya akan diri sendiri. Kesanggupan untuk menerima tanggung jawab adalag test pertama bagi seorang pemimpin, tetapi keberanian mendelegasikan kekuasaan kepada bawahan, merupakan tanda nyata seorang pimpinan yang sukses.

Rentang kekuasaan

Mengenai prinsip rentang kekuasan, dipergunakan berbagai istilah-istilah yang berbeda, seperti span of authority, span og control (rentan pengawasan), span of management dan span of managerial responsibilities dan dalam bahasa Indonesia  dipakai istilah lain seperti jenjang pengawasan, jenjang kekusaan dan rentang kendali Dengan  rentang kekuasaan dimaksudkan berapa jumlah orang yang setepatnya yang menjadi bawahan seseorang pemimpin, sehingga pemimpin iu dapat memimpin, membimbing dan mengawasi dengan secara berhasil guna dan berdaya guna

Tingkat-tingkat pengawasan

Menurut prinsip ini, tingkat pengawasan atau tingkat pemimpin hendakanya diusahakan sedimik mungkin. Di dalam suau organisasi diusahakan agar organisasi sesederhana mungkin, selain memudahkan komunikasi pula agar ada motivasi bagi  setiap  orang di dalam organisasi untuk mencapai tingkat-tingkat tertingi di dalam dstruktur organisasi. Sehubungan dnegan prinsip-prinsip tingkat-tingkat pengawasan ini, maka suatu organisasi yang baik yaitu berbentuk pipih dan tidak menjulang tinggi.

Kesatuan perintah dan tanggung jawab

Menurut prinsip ini maka seorang bawahan hanya mempunyai seorang atasan dari siapa ia menerima perintah dan kepada siapa ia memberi pertanggungjawaban akan pelaskanaan tugasnya. Dengan kata lain prinsip tidak seorangpun dapat melayani dua atasan sekaligus

Koordinasi

Prinsip yang tidak kalah pentingnya dalam organisasi adalah prinsip koordinasi. Adanya pembagian tugas pekerjaan dan bahagian-bahagian seta unit-unit terkecil di dalam suatu organisasi, cenderung timbul kekuatan memisahkan diri dari organisasi sebagai kesleuruhan.

2.3         Pengertian Pembagian Kerja

Pembagian kerja timbul disebabkan bahwa seseorang mempunyai kemapuan terbatas untuk melakukan segala macam pekerjaan. Oleh Karen itu   pembagian kerja bearti bahwa kegiatan-kegiatan dalam melakukan pekerjaan harus ditentukan dan dikelompokkan agar lebih efektif dalam pencapaian tujuan organisasi.

Dengan danya pembagian kerja apat menjadikan orang bertambah  ketrampil dalam menagani tugasnya, karena tugasnya itu merupakan bidang tertentu saja. Pembagian kerja yang baik merupakan kunci bagi penyelenggaraan kerja terutama  dlam memberikan jaminan terhadap kestabilan, kelancaran dan eisien kerjanya. Sebaliknya jika pembagian kerja itu dilakukan dengan ceroboh, artinya tidak menyesuaikan kemampuan seseorang dengan bidang pekerjaannya, maka ia akan bepengaruh tidak baik bahkan dapat menimbulkan kegaga;an dalam penyelenggaraan pekerjaannya.

Pengertian pembagian kerja dapat lebih jelas kita ketahui dengan mempelajari beberapa batsan yang dikemuakan oleh para ahli di bawah ini:

Menurut (Abdul Syani, 1987) , yaitu :

“ Pembagian kerja dalah pemecahan tugas dengan demikian rupa sehingga setiap orang atau karyawan dalam organisasi bertanggungjawab dan melaskanakan aktivitas  tertenu saja.”

Menurut (James A.F. Stoner, 1996) :

“ Pembagian  kerja adalah penjabaran tugas yang harus dikerjakan sehingga setiap orang dalam organisasi bertanggungjawab untuk dan meksanakan seperangkat aktivitas tertentu dan bukan keseluruhan tugas.”

Dengan demikian  pembagian kerja perlu dilaksanakan secara seksama dengan penuh pertimbangan. Hal ini berarti dalam pembagian kerja harus ada penyesuaian antara kemampuan dan jenis pekerjaan yang akan ditangai, disamping itu disertai oleh prosedur dan disiplin kerja yang mudah dipahami oleh para pekerja yang bersangkutan.

2.4      Pengertian Pendelegasian Wewenang dan Tangung jawab

Seorang manajer atau seorang pimpinan perusahaan sebagai mansuia mempunyai waktu, kemampuan dan perhatian yang sangat terbatas maka tidaklah mungkin seorang pimpinan itu dapat melaskanakan tugasnya sendiri, sungguhpun pimpinan itu harus bertanggung jawab akan  pelaksanaan tugasnya dengan sebaik mungkin.

Karena  hal tersebut di atas, maka seorang manajer perlu mendelegasikan sebagian tugas kepada bawahannya. Pendelagasian wewenang adalah suatu pelimpahan hak atau kekuasaan pimpinan terhadap bawahannya untuk melaksanakan tugas-tugasnya dengan sekaligus meminta pertanggung jawaban atas penyelesaian tugas-tugas tersebut.

Dengan demikian, menurut (James, A.F.Stoner, 1996) jika seorang manajer mendelegasikan tugasnya kepada bawahan maka ia harus mendelegasikan kekuasaannya yang artinya jika  seorang diserahi tugas untuk melaskanakan suatu  tugas tertentu, ia mbertanggungjawab dalam melaksanakan tugas tersebut.

Pendapat para ahli mengenai pengertian pendelegasian wewenang antara lain:

Menurut (James, A.F. Stoner,1996) :

  1. Tugas, adalah suatu kewajiban dalam pekerjaan yang telah ditentukan dalam organisasi, untuk melaksanakan pekerjaan yang telah ditetapkan dalam bidang masing-masing jabatan.
  2. Kekuasan, adalah suatu pekerjaan yang telah diberikan wewenang (tugas), penyerahan dari tugas-tugas yang dipecaya, seorang  memperoleh kekuasaan secara formal. Misalnya karena adanya surat keputusan dari pimpinan perusahaan  yang berwenang.
  3. Tanggung jawabm adalah sutau pekerjaan yang dilakukan organisasi suatu perusahan yang diperoleh dari atasan terhadap tanggung jawab pekerjaan ataupun kepercayaan yang diberikan.

Menurut (Alex. S. Nitisemito, 1981) Untuk kelancaran dalam memberikan wewenang maka ada beberapa teknis khusu untuk melakukan pelimpahan wewenang:

  1. Tentukan dulu sasaran
  2. Tentukan tanggung jawab dan otoritas
  3. Berikan motivasi pada bawahan
  4. Haruskah  bawahan merampungkan pekerjaan.
  5. Beritakan latihan
  6. Lakukan pengedalian

Menurut ( Manulang, 1987) Dalam mendelegasikan  wewenang , agar proses delegasi itu berjalan efektif, sedikitnya tiga hal harus diperhatikan yaitu:

1. Delegasi wewenang adalah anak kembar siam dengan delegasi tugas, dan bila kedua-duanya telah ada harus pula dibarengi dengan adanya, pertanggungjawaban. Dengan kata lain dalam proses  delegasi harus di deleger tugas dan ekuasan dan bila kedu-duanya  telah ada harus pula dibarengi dengan adanya pertanggungjawab. Dengan kata lain, proses delegasi harus mencakup tigas unsure yaitu delegasi tugas, delegasi wewenang  dan adanya pertanggungjawab.

2. Wewenang  yang di delegasikam harus memberikan kepada orang yang tepat, baik dilihat dari sudut kuelifikasi maupun dari sudut fisik.

3. Mendelegasikan wewenang kepada seseorang, harus dibarengi dengan pemberian motivasi,

4. Pejabat yag mendelegasikan kekuasaan harus membimbing dan mengawasi orang yang menerima dlegasi wewenang.

Menurut (James A.F. Stoner ,1996) Banyak dijumpai para pimpinan yang tampaknya enggan untuk melakukan pelimpahan wewennag dalam organisasi atau perusahan yang dipimpin, keengganan smeentara pimpinan untuk melakukan pelimpahan sebaai wewenng dengan alas an sebagai berikut :

  1. Perasaan yang tidak aman. Para manajer bertanggungjawab atas kegiatan  bawahannya, dan membuat mereka enggan untuk mengambil resiko dan melimpahkan wewenang.
  2. Manajer takut kehilangan kekuasaan bila bawahan teralu baik melaskanakan tugas.
  3. ketidak mampuan manajer. Sebagian manajer bisa nsagt tak teratur atau tidak luwes dalam membuat perencaan ke depan dan menetukan tugas mana yang harus dilimpahkan kepada siapa atau dalam memnciptakan suatu system pengedalian atau selalu bisa memantau kegiatan bawahan.
  4. ketidak percayaan kepada bawahan.

Menurut (Abdul Syani, 1981) Ada beberapa sikap pribadi yang harus dimiliki seorang manajer atau pimpinan dalam pendelegasian wewennang adalah sebagai berikut :

  1. Sikap pribadi terhadap pendelagsian.

Penerapan yang paling utama dalah sikap pribadi tertentu terhadap bawahan yang memberikan wewenang melaksanakan tugasnya sunguh-sunggum artinya mereka melakukan tugasnya dengan sepenuh kerelaan tanpa adanya rasa terpaksa.

  1. Kesedian manajer untuk melepaskan wewenangnya kepada bawahan dengan begitu  manajer dapat menguangi waktu, tenaga dan pikirannya untukjk menangani berbagai keputusan, yang erat kaiatannya dengan kemajuan dan perkembangan suatu organisasi atau perusahaan.
  2. Kesediaan manajer untuk memanfaatkan bawahan.

Memaafkjan kesalahan para bawahan bukanlah berate bermaskud membiakan kesalahan itu dilakukan terus menrus sehingga akan membahayakan organisasi atau perusahaan, akan tetapi memaafkan dalam arti memaklumi mengapa kesalahan itu sampai terjadi dan pada dsarnya setiap manusia tidak pernah dapat menghindari dari kesalahan.

  1. Kesadaran manajer untuk memeprcayai bawahan

Bahwa suatu  pendelgasikan dapat dilakuan secara efektif, jika antara keudanya (atasan dan bawahan) telah tersirat  sikap  saing dapat mempercayai. Oleh  karena itu  mau tidak mau para manajer tidak mempunyai  pilihan  lain kecuali harus dapat memeprcayai para bawahannya dalam mengadakan wewenangnya.

  1. Kesediaan manajer untuk mengdakan pengawasan secara luas.

Pendelegasikan wewenang dan anggungjawab tersebut bersamaan dengan pengawasan kepada seluuh struktur organisasi. Pengawasan tersebut  merupakan penyokong dalam upaya mencapaii tujuan suatu perusahan.

Dari uraian terseut dapat kita ketahui bahwa pimpinan perusahaan yang mendelgasikan pertanggung jawaban sepenuhnya melainkan tetap bertanggung jawa akan pelaksanaan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Serta proses  delegasi dan sikap-sikap pribadi dari pimpinan sangat penting sekali dan merupakan upaya untuk mengatasi kekliruan serta kesalah pahaman.

BAB III

KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL DAN HIPOTESIS

 

3.1        Kerangka Konsep

Pada penelitian ini, yang akan diteliti adalah hubungan pembagian kerja dan wewenang karyawan terhadap prestasi kerja.

 

VARIABEL INDEPENDEN                 VARIABEL DEPENDEN

 

Pembagian Kerja

 

 

 

Keterangan :

:Variabel yang diteliti

:Variabel yang tidak diteliti

24

3.2.   Definisi Operasional

 3.2.1.Variabel Independen

1.2.1.1  Pembagian Kerja

  • Pengertian
:  Penugasan kerja sesuai dengan keahlian karyawan.
  • Cara Ukur
: Wawancara
  • Alat Ukur
: Questionaire
  • Hasil Ukur
:
  1. baik ; bila setiap karyawan atau pejabat mendapat tugas sesuai dengan keahlian dan pendidikannya
  1. tidak baik ; bila setiap karyawan atau pejabat mendapat tugas tidak sesuai dengan keahlian dan pendidikannya
  • Skala Ukur
: Ordinal

 

1.2.1.2  Wewenang karyawan

  • Pengertian
:  Hak dan kewajiban karyawan dala melaksanakan tugas
  • Cara Ukur
: Wawancara
  • Alat Ukur
: Questionaire
  • Hasil Ukur
:
  1. cukup  , bila setiap karyawan diberi wewenang yang besar untuk mengambil keputusan dalam melaksanakan tugas
  1. tidak cukup, bila setiap karyawan tidak  diberi wewenang yang besar untuk mengambil keputusan dalam melaksanakan tugas
  • Skala Ukur
: Ordinal

3.2.2        Variabel Dependen

3.2.2.1        Prestasi Kerja

Pengertian          :  Kondisi dimana karyawan dapat menguntungka perusahaan.

  • Cara ukur     : Wawancara
  • Alat ukur      : Questionaire

Hasil ukur           : 1. ada prestasi kerja jika perusahaan memperoleh keuntungan dari pekerjaan karyawan.

2. tidak ada prestasi kerja jika perusahaan tidak memperoleh keuntungan dari pekerjaan karyawan.

Skala ukur          : ordinal

3.3.   Hipotesis

Ada hubungan pembagian kerja dan wewenang karyawan terhadap prestasi kerja.

1.   Ada hubungan pembagian kerja dan wewenang karyawan secara simultan terhadap prestasi kerja karyawan

2. Ada hubungan pembagian kerja secara partial terhadap prestasi kerja karyawan.

3.   Ada hubungan wewenang karyawan secara partial terhadap prestasi kerja.

BAB IV

METODE PENELITIAN

 

 

 

4.1          Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah survey deskriptif menggunakan pendekatan cross sectional dimana tentang variable independent dan dependen diambil (diukur) dalam waktu bersamaan.

4.2         Lokasi dan Waktu Penelitian

4.3.1        Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini pada  PT. Bank Bukopin Palembang,  Jl. Kapt. A.Rivai No.5 Palembang.

4.3.1        Waktu Penelitian

Waktu penelitian akan dilaksanakan pada bulan Mei 2007.

4.3         Populasi dan Sampel

4.3.1        Populasi

Populasi penelitian ini adalah seluruh pegawai PT. Bank Bukopin Palembang  yang diperkirakan 66 orang .

4.3.2        Sampel

28

Pengambilan sampel penelitian menggunakan metode random yaitu berjumlah 66 orang.

4.4         Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data untuk penelitian ini dengan prosedur sebagai berikut :

4.4.1             Wawancara

Yaitu suatu teknik pengumpulan data dengan melaksanakan tanya jawab langsung kepada pegawai yang mempunyai wewenang untuk memberikan data dan informasi yang diperlukan dalam penulisan

4.4.2             Observasi

Yaitu teknik pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan-pengamatan secara langsung atau seksama pada pelaksanaan operasi perusahaan atau instansi, sejalan dengan judul diatas agar mendapatkan data yang objektif dan sistematis

4.4.3             Library Research

Yaitu suatu teknik pengumpulan data dengan cara membaca buku-buku, referensi dan literature yang berhubungan dengan penyusunan laporan akhir.

4.5         Pengumpulan Data dan Analisa Data

Pengolahan data secara manual dengan cara-cara sebagai berikut :

4.5.1             Coding

Coding adalah usaha mengklasifikasikan jawaban atau hasil yang ada menurut macamnya ke bentuk yang lebih ringkas dengan menggunakan kode-kode

4.5.2             Editing (Pengeditan)

Editing adalah meneliti kembali apakah isian pada lembaran kuisioner sudah cukup baik dan dapat diproses editing langsung dilakukan ditempat data/lapangan sehingga jika terjadi kesalahan maka upaya pembentulan data dapat segera dilaksanakan

4.5.3             Cleaning Data (Pembersihan Data)

Setelah pemakaian data selesai dan sudah benar-benar bebas dari kesalahan selanjutnya adalah melakukan pengujian kebenaran data.

 

BAB V

HASIL PENELITIAN

 

5.1. Sejarah Singkat Perusahaan

Keberadaan PT Bank Bukopin Cabang palembang merupakan perwujudan partispasi aktif dari usaha untuk melaksanakan dan melayani kepentingan gerakan koperasi di Indoneisa. Dulu perusahaan ini didirikan dengan nama Bank Umum Koperasi Indonesia, yang disingkat  BUKOPIN. Berdasarkan surat keputusan Direktorat Jenderal Koperasi  Nomor 13/Dirjen/1970, tanggal 10 Juli 1970 BUKOPIN telah mendapatkan pengesahan sebagai perusahaan berbadan hukum dan telah pula terdaftar dalam daftar umum Direktorat  Jendral Pajak Nomor 8521, tanggal 10 Juli 1970. sejak tanggal 16 Maret 1971, perusahaan telah melakukan usaha sebagai Bank Umum Koperasi Indonesia. Usaha tersebut dilaksanakan setelah mendapat izin dari Menteri Keuangan dengan Surat Keputusan No. 78/DDk/II/1971.

Di dalam anggaran penderiaannya, dikatakan bahwa usaha bank mencakup segala kegiatan bank umum sebagai dimaksud dalam Undang-Undang Perbankan dengan tujuan utama memperhatikan gerakan koperasi di Indonesia sesuai dengan Undang-Undang Perkoperasian yang berlaku.

31

Di dalam perkembangannya Bank Bukopin telah melakukan peleburan usaha dengan beberapa Bank Umum Koperasi. Perubahan nama dari Bank Umum Koperasi Indonesia (BUKOPIN) menjadi BANK BUKOPIN dilakukan  berdasarkan hasil  Keputusan Rapat Anggota Bank Umum Indonesia yang dituangkan dalam serta keputusan Nomor 03/RA/XII/89 tanggal 1990

Di dalam Rapat Khusus Bank Bukopin sesuai dengan akte notaries Muhani Slain No. 4 tanggal 20 tahun 992 para anggota menyetujui unuk mengadakan perubahan badan hukum Bank Bukopin menjadi Perseroan Terbatas (PT). Perubahan  status tersebut diaktakan dengan akta Notaris Muahni Slain, SH Nomor 126 tanggal 25 Februari 1993, untuk kemudian disyahkan oleh Menteri Kehakiman dalam Surat Keputusan  No. C2-532.HT.01.91 tahun 1993  pad atanggal 29 Juni 1993. dan telah pula diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia nomor 3663 tanggal 10 Agustus 1993 . Pada tanggal 1 Juli 1993 Bank Bukopin melaksanakan kegiatan sebagai Perseroan Terbatas.

Berdasarkan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 29/35/Kep/DIR tanggaal 2 Desember 1996 PT Bank Bukopin menjadi Bank Umum Devisa. Terhitung sejak tanggal 1 Januari 1997 dengan kantor Pusat di Jalan MT. Haryono Kav. 50-51 Jakarta Selatan 12770 dengan 28 Kantor Cabang Utama dan 52 Kantor Cabang Pembantu serta 45 Kantor Kas. Dan salah satunya adalah Bank Bukopin Cabang Palembang yang terletak pada Jalan Kapten A. Rivai No. 5 yang telah beroperasi sejak tanggal 17 17 Juli 1996 berdasarkan surat izin dari Bank Indonesia. No. 21/1996/UPB/3 ADB tanggal 2 Mei 1996.

 

 

5.2.      Analisis Data

5.2.1.  Analisis Univariat

Analisis data ini dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi dan persentase dari variabel independen ( Pembagian Kerja dan Wewenang   ) dengan variabel dependen ( Prestasi kerja  ). Jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 66 orang, data ini disajikan dalam bentuk tabel dan teks.

  1. a.      Pembagian Kerja

Pada penelitian ini pembagian kerja  dikategorikan menjadi dua yaitu cukup dan tidak cukup yang akan diuraikan pada tabel dibawah ini.

 Tabel 5.1

Distribusi Frekwensi Responden Berdasarkan Pembagian Kerja di Bank Bukopin Cabang Palembang  Bulan Mei Tahun 2007

Pembagian Kerja  

Jumlah

Presentase

Cukup

36

54.5

Kurang

30

45.5

Jumlah

66

100

Dari tabel 5.1 diatas dapat diketahui pembagian kerja  dengan mendapat pembagian kerja 54,5% dibandingkan tidak mendapat pembagian kerja 45,5%.

  1. b.      Wewenang Karyawan  

Pada wewenang karyawan  ini pengukuran nilai sumber daya manusia dikategorikan dalam dua kelompok yaitu cukup dan tidak cukup yang akan diuraikan pada tabel dibawah ini.

Tabel 5.2

Distribusi Frekwensi Responden Berdasarkan Wewenang Karyawan  di Bank Bukopin Cabang  Palembang  Bulan Mei Tahun 2007

Wewenang

Jumlah

Presentase

Cukup

32

48,4

Tidak Cukup

34

51,6

Jumlah

66

100

Dari tebel 5.2 diatas dapat diketahui bahwa wewenang karyawan  dengan mendapat wewenang karyawan 48,4% dibandingkan tidak mendapat wewenang karyawan  51,6%.

5.2.2.  Analisis Bivariat

Analisis ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel Independen ( Pembagian Kerja  dan Wewenang Karyawan  ) dengan variabel dependen (Prestasi kerja).

Penelitian ini menggunakan uji statistik Chi-square pada α=0,05 dan df=1 dengan batas kemaknaan X² tabel > 3,841 bila X² hitung > x² tabel yang berarti ada hubungan yang bermakna (signifikan) dan apabila X² hitung < dari X² tabel maka tidak ada hubungan yang bermakna.

  1. a.      Hubungan Pembagian Kerja dengan Prestasi Kerja

Pembagian kerja dengan kejadian prestasi kerja dapat di kategorikan menjadi dua kolompok yaitu cukup dan kurang   dengan jumlah responden 66 orang dapat dilihat pada tabel 5.3 dibawah ini :

 Tabel 5.3

Hubungan Antara Pembagian Kerja  Dengan Prestasi Kerja Karyawan Bank Bukopin  Palembang Mei Tahun 2007

Dari tabel 5.3 diatas dapat diketahui bahwa proporsi karyawan yang mengalami peningkatan prestasi kerja yang mendapat pembagian kerja 9,4% dibandingkan dengan karyawan yang tidak mendapat pembagian kerja 16,7% yang mengalami penurunan prestasi kerja.

Dari hasil uji Chi-Square pada α=0,05 dan df=1 dimana X² hitung = 37,8 lebih besar dari X² tabel = 3,841 ini berarti ada hubungan yang bermakna antara pembagian kerja dengan prestasi kerja karyawan.

  1. b.      Hubungan Wewenang  dengan Prestasi Kerja

Wewenang dengan prestasi kerja dapat di kategorikan menjadi dua kelompok yaitu cukup  dan tidak cukup dengan jumlah responden 66 orang dapat dilihat pada tabel 5.4 dibawah ini:

 Tabel 5.4

Hubungan Antara Wewenang  Dengan Prestasi Kerja karyawan  Bank Bukopin Cabang Palembang Mei Tahun 2007

Dari tabel 5.4 diatas dapat diketahui bahwa proporsi karyawan yang mengalami prestasi kerja  yang mendapat wewenang 93,8% dibandingkan dengan karyawan yang tidak mendapat wewenang  14,7% yang mengalami kenaikan prestasi kerja karyawan.

Dari hasil uji Chi-Square pada pada α=0,05 dan df=1 dimana X² hitung = 38,2 lebih besar dari X² tabel = 3,841 ini berarti ada hubungan yang bermakna antara wewenang dengan prestasi kerja karyawan.

BAB VI

PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan di Kantor PT. Bank Bukopin Cabang Palembang bulan Mei – Juni tahun 2007, sampel penelitian berjumlah 66 responden yaitu sebagian karyawan yang bekerja  di PT. Bank Bukopin Cabang Palembang. Sampel ini menurut Arikunto (1998) jika populasi lebih dari 100 maka sampel diambil              10-15 % jika populasi kurang dari 100 maka seluruh populasi dijadikan sampel.

Selanjutnya data yang telah dikumpulkan dengan chek lists yang terdiri dari analisis univariat dan analisis bivariat  dilakukan uji statistik Chi-Square.

Pada penelitian yang dilakukan di Kantor PT. Bank Bukopin Cabang    Palembang Bulan Mei – Juni tahun 2007 peneliti hanya membahas variabel Pembagian Kerja dan wewenang.

6.1.            Pembagian Kerja

Dari hasil penelitian yang dilakukan di PT. Bank Bukopin Cabang Palembang  bulan Mei – Juni tahun 2007 didapatkan analisis univariat dari 66 responden. Dari hasil analisis bivariat terdapat hubungan yang bermakna antara Pembagian kerja  dengan prestasi kerja nilai X2                                     hitung =37,8 > X2 tabel = 3,481.

Dengan demikian hipotesa yang menyatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara Pembagian Kerja dengan prestasi kerja tepat  terbukti.

37

6.2.            Wewenang

Dari hasil penelitian dilakukan di PT. Bank Bukopin Cabang Palembang  bulan Mei – Juni tahun 2007 didapatkan analisis univariat dari 66 responden.

Dari hasil analisis bivariat terdapat hubungan yang bermakna antara wewenang karyawan dengan prestasi kerja dengan nilai X2 hitung = 38,2> X2 tabel = 3,841.

Dengan demikian hipotesa yang menyatakan bahwa ada hubungan antara wewenang dengan prestasi kerja tepat terbukti.

BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

7.1. Kesimpulan

1.   Karyawan yang mengatakan Pembagian Kerja cukup maka prestasi kerja karyawan cukup dan terjadi peningkatan 94,5 % dan prestasi kerja cukup dan tidak terjadi peningkatan 5,5% .

2.   Karyawan yang mengatakan pembagian kerja kurang dan terjadi peningkatan 16,7 % dan prestasi kerja kurang dan tidak terjadi peningkatan 83,3%

3.   Karyawan yang mengatakan wewenang cukup maka prestasi cukup dan terjadi peningkatan 93,8% dan prestasi kerja cukup dan tidak terjadi peningkatan 6,2%.

4.   Karyawan yang mengatakan wewenang tidak cukup maka prestasi tidak cukup  dan terjadi peningkatan 14,7% dan tidak cukup dan tidak terjadi peningkatan 85,3%.

5.   Adanya hubungan yang bermakna antara Pembagian kerja dengan prestasi kerja di PT. Bank Bukopin Cabang Palembang tahun 2007 dengan X2  =37,8

6.   Adanya hubungan yang bermakna antara Wewenang dengan prestasi kerja di PT. Bank Bukopin Cabang Palembang    X2 = 38,2.

39

7.2. Saran      

      1.  Bagi Perusahaan PT. Bank Bukopin Cabang Palembang

a.  Agar perusahaan memberikan membuat pembagian kerja yang cukup.

b. Agar perusahaan memberikan wewenang yang cukup kepada para karyawan.

                       

2.   Bagi Peneliti

Pada penelitian yang akan datang agar dapat meneliti variabel-variabel yang belum diteliti sesuaikan dengan kondisi perusahaan yang diteliti.

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran 1

CHEK LIST

HUBUNGAN PEMBAGIAN KERJA  DAN WEWENANG  KARYAWAN TERHADAP PRESTASI KERJA  PADA BANK BUKOPIN CABANG   PALEMBANG BULAN MEI 2007

 

 

 

No

Nama

Pembagian Kerja

Wewenang

Peningkatan Prestasi Kerja

Cukup

Kurang

Cukup

Tidak Cukup

Terjadi Peningkatan

Tidak Terjadi Peningkatan

  1. 1.
Pramudya

  1. 2.
Albert

  1. 3.
Reka A

  1. 4.
Rika

  1. 5.
Wiratama

  1. 6.
Rivan Arief

  1. 7.
Mila Rica

  1. 8.
Liona Fitri

  1. 9.
Winda Eka

Ria Ramad

Sari

Roby

Ratna Diah

Yerli Sari

Endo Adams

Zakiah

Monika

Mayang

Dicky

Dyah Ayu

Ramanda

Karunia

Slamet

No

Nama

Pembagian Kerja

Wewenang

Cukup

Kurang

Cukup

Tidak Cukup

Terjadi Peningkatan

Tidak Terjadi Peningkatan

Ridho

Nesi Yovi

Ade Chisilia

Farhan

Yulita

Meli Yanita

Nur fitria

Dhana

Devi N

Taufan

Abi Ubaid

Yuli Angga

Nyimas Susi

Didi S

Nurlailah

Dini W

Reksi

Ayu Febriani

Tri Wahyu

Fadillah

Karlina

Engga

Efriani

Dwi Puspita

Ria Okta

Dahniar

Adelia

Arema Y

Fitria Yanti Aprillita

No

Nama

Pembagian Kerja

Wewenang

Peningkatan Prestasi Kerja

Cukup

Kurang

Cukup

Tidak Cukup

Terjadi Peningkatan

Tidak Terjadi Peningkatan

Melati

Decy

Yeni

Eva Lidya

Astrid

Irsan

Farid

Aini

Wenti

Aisyah

Ayu Nila

Dina Maya

Rica Savitri

Tenni

Mira

Atika

Christian

Wiwin

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran 2

Tabel 5.5

Hubungan Antara Pembagian Kerja Dengan Prestasi Kerja Karyawan Bank Bukopin Cabang  Palembang Mei Tahun 2007

(AD – BC) – n/2      ²

X² = n

(A + B) (C + D) (A + C) (B + D)

(34.25 – 2.5) – 66/2   ²

X² = 66

(34 + 2) (5 + 25) (34 + 5) (2 + 25)

(850 – 10) – 33    ²

= 66

(36) (30) (39) (27)

(807)  ²

= 66

1137240

(651249)

= 66

1137240

42982434

=

1137240

= 37,8

Lampiran 3                                       

Tabel 5.6

Hubungan Antara Wewenang  Dengan Prestasi Kerja Karyawan Bank Bukopin Cabang  Palembang Mei Tahun 2007

(AD – BC) – n/2      ²

X² = n

(A + B) (C + D) (A + C) (B + D)

(30.29 – 2.5) – 66/2   ²

X² = 66

(30 + 2) (5 + 29) (30 + 5) (2 + 29)

(870 – 10) – 33    ²

= 66

(32) (34) (35) (31)

(827)  ²

= 66

1180480

(683929)

= 66

1180480

45139314

=

1180480

=        38,2

UNIVERSITAS KADER BANGSA PALEMBANG

PROGRAM STUDI  S1 MANAJEMEN

 

SKRIPSI, JULI 2007

LILI KARTIKA

Hubungan  Pembagian Kerja Dan Wewenang Karyawan Terhadap Prestasi Kerja Pada Bank Bukopin Cabang Palembang Tahun 2007

 

 

ABSTRAK

Perusahaan  yang mempunyai organisasi yang baik dan teratur kemungkinan  besar tidak akan mengalami hambatan-hambatan dalam mengerjakan tugasnya dengan efektif (sebaiknya/semaksimal mungkin). Dan begitu pula sebaliknya bila perusahaan tidak mempunyai organisasi yang baik dan teratur. Sehingga dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan yang diberikan oleh pimpinan kepada  bawahan akan mengalami hambatan. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya rasa tanggung jawab dalam melaksanakan tugas yang diberikan  oleh pimpinan kepada bawahan.       Penelitian ini dilakukan di Kantor PT. Bank Bukopin Cabang Palembang bulan Mei – Juni tahun 2007, sampel penelitian berjumlah 66 responden yaitu sebagian karyawan yang bekerja  di PT. Bank Bukopin Cabang Palembang. Sampel ini menurut Arikunto (1998) jika populasi lebih dari 100 maka sampel diambil 10-15 % jika populasi kurang dari 100 maka seluruh populasi dijadikan sampel. Selanjutnya data yang telah dikumpulkan dengan chek lists yang terdiri dari analisis univariat dan analisis bivariat  dilakukan uji statistik Chi-Square. Pada penelitian yang dilakukan di Kantor Pusat Bank Sumsel  Palembang Bulan Mei – Juni tahun 2006 peneliti hanya membahas variabel Pembagian Kerja dan wewenang.Dari hasil penelitian yang dilakukan di PT. Bank Bukopin Cabang Palembang  bulan Mei – Juni tahun 2007 didapatkan analisis univariat dari 66 responden. Dari hasil analisis bivariat tidak terdapat hubungan yang bermakna antara Biaya SDM dengan Pelaporan Akuntansi SDM dengan nilai X2  hitung =37,8 > X2 tabel = 3,481. Dengan demikian hipotesa yang menyatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara Pembagian Kerja dengan prestasi kerja tepat  terbukti. Dari hasil penelitian dilakukan di PT. Bank Bukopin Cabang Palembang  bulan Mei – Juni tahun 2007 didapatkan analisis univariat dari 66 responden. Dari hasil analisis bivariat terdapat hubungan yang bermakna antara wewenang karyawan terhadap prestasi kerja dengan nilai X2 hitung = 38,2> X2 tabel = 3,841.Dengan demikian hipotesa yang menyatakan bahwa ada hubungan antara wewenang dengan prestasi kerja tepat terbukti.

UNIVERSITY OF KADER BANGSA PALEMBANG

STUDY  PROGRAM S1 MANAGEMENT

SKRIPSI, JULY 2007

LILI KARTIKA

The Relationship Of Job Description  And Delegation To  Employee                           Job  Performance At  The Branch Office of Bukopin Bank  Palembang On June 2007

 

Abstract

The company that has a good and orderly organization won’t experience obstacle in performing its task effectively. On the other hand if the company has not a good and orderly  organization it will. If it is the manager will face some problem in doing the duty from higher manager. This is caused by there is no responsibility in performing the duty given by higher manager.This research is done at The Branch Office of Bukopin Bank Palembang on  May –  June in the year of  2007, sample on this research is 66 respondents, some of employee working at The Branch Office of Bukopin Bank Palembang. Then data thosen are collected by chek lists consists of  analysis of univariat and analysis of bivariat  examined by statistic Chi-Square.

On this research that is performed at The Branch Office of Bukopin Bank Palembang on  May – June the year of  2007 researcher only observe variable Job Description  and Delegation.

The result of the research done at The Branch Office of Bukopin Bank Palembang  on  May – June the year of 2007 shown by  analysis of univariat of 66 respondents. The result of  analysis of bivariat there is  relationship between Job Description with employee job peformance with value  X2 statistic = 37,8 > X2 = 3,481.

The result  of research is done at The Branch Office of Bukopin Bank Palembang on  May  –  June the year of  2007  shown by  analysis of univariat of 58 respondents

The result of analysis of bivariat indicate that there is relationship between delegation with  employee job performance with value X2 statistic = 38,2> X2 tabel = 3,841.

To be recommeded to prepare a good job description and  to be recommended to give enough delegation to employee.

5.4. Struktur Organisasi

Setelah menguraikan sejarah singkat perusahaan, selanjutnya penulis akan memberikan gambaran mengenai struktur organisasi yang ada pada PT Bank Bukopin Cabang Palembang. Struktur organisasidapat dianggap sebagai kerangka dasar secara menyeluruh yang memeprsatukan fungsi perusahaan dan yang menetapkan hubungan-hubungan antara personil yang melakukan fungsi tersebut

Struktur organisasi merupakan salah satu alat bantu untuk mencapai tujuan dari suatu perusahaan. Di sini telihat bahwa struktur organisasi mempunyai peranan yang sangat penting di dalam perusahan, apabila terjadi kegagalan proses kegiatan perusahaan, maka orang akan beranggapan bahwa struktur organisasi yang terbentuk tidak baik atau kurang baik. Jadi salah satu syarat untuk menunnjang suksesnya usaha  dari suatu bandan usahaadalah terletak pada struktur organisasi dan manajemen yang baik.karena tanpa danya struktur organisasi dan manajemen yang baik, maka terjadi  kesimpulan siuran dalam menjalankan kegiatan usahanya sehari-hari.

Untuk mendorong kerjasama yang baik guna meningkatkana produktivitas pekerja serta keinginan untuk melakukan sesuatu dengan sempurna sehingga pekerjaan dalam bidang usaha dapat menimbulkan suasana dimana keputusan  perorangan maupun golongan dapat terwujud dengan baik.

Bentuk struktur organisasi sangat erat hubungannya dengan luas aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan di dalam mencapai tujuan itu sendiri. Susunan organisasi atau bagi kelancaran aktivitas dari organisasi tersebut. Oleh karena itu  kegagalan dalam mencapai tujuanorganissai bisa disebabkan dari stuktur organisasi yang kurang baik.

Struktur organisasi menggambarkan pengelompokkanaktivitas yang dimaksud untuk menciptakan spesialisasi dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Tugas tersebut dijalankan apabila telah diterima wewenang dan tanggung jawab, jadi struktur organisasi merupakan tatanan untuk menciptakan suatu kkomunikasi dankoordinasi antara satuan-satuan yang  terbentuk serta fungsi-fungsi dalam perusahaan. Sebelum penulis mengemukakan struktur organisasi PT Bank Bukopin Cabang Palembang, terlebih dahulu penulis mengemukakan bentuk-bentuk oragaanisasi yang dipakaia oleh bebeapa perusahaan itu secara umumnya ada empat bentuk yaitu :

  1. Organisasi  Garis
  2. Oraganisasi Garis dan Nstaaf
  3. Oarganisasi Fungsional
  4. Organisasi Panitia/Komite

Organisasi Garis

Organisasi garis adalahtipe organisasi yang  tertua dan yang paling sederhana di  mana atasan dan bawahan terdapat  hubungan lanagsung  yang dihubungkan oleh sutau garis wewenang, mulai dari pimpinan tertinggi sampai kepada setiap orang yang memegang setiap jabatan yang paling rendah, juga antara eselon yang satu dengan eselon yang lain masing-masing dihubungkan oleh garis wewennag atau garis komando.

Organisasi garis ini mempunyai kebaikan-kebaikan diantaranya:

  1. Dapat mengambil keputusan dengan cepat karena tidak banyak memerlukan konsultasi sebelum mengambil keputusan itu.
  2. Kesatuanpimpinan terjamin sepenuhnya, karena pimpinan berada dalam satu tangan.
  3. Garis pimpinan berjalan dengan tegas karena tidak mungkin terjadi kesimpang siuaran, sebab pimpinan berhubunngan langsung dengan bawahan.
  4. Dapat diketahui dengan cepat  kecakapan seseorang atau sebaliknya.
  5. Terdapat rasa solidaritas yang tinggi antara sesama karyawan, karena jumlah kayawannya masih sedikit.

Disamping  kebaikan-kebaikan seperti tersebut diatas, pada organisasi garis ini terdapat jug akkeburukan-keburukan diantaran:

  1. Seluruh  organisasi  terlalu bergantung pada satu orang nsehingga bila orang tersebut kurang mampu, maka seluruh organisasi akan mengalami kehancuran.
  2. Kecenderungan pimpinan untuk bertindak secara otoritas cukup besar, karena ia yang merencanakan, memberikan komando atau perintah dan melaksanakan pengawasan.
  3. Kesempatan untuk mengembangkan karir bagikaryawan terbatas.

Organisasi garis dan staff

Dalam struktur organisasi garis dan staff ini biasnaya dipakai pada perusahaan-perusahaan besar dimana volume kerjanya atau aktivitasnya sudah sangat rumit. Dalam menajalankan tugas sehari-hari pimpinan  biasanya dibantu oleh bebrapa orang staff. Dengan adanya staff ini  pembegian tugas menjadi jelas, sehingga dengan demikian  dapat dibedakan mana yang menjalankana tugas pokok dan mana yang bertugas membantu pimpinan. Dengan demikian kerjasama koordinasi dan pengendalian tugas-tugas atau pekerjaan dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya.

Sehubungan dengan hal tersebut diatas, maka untuk mempermudah  pengertian dan untuk memebdakan pengertian-penngertian serta hubungan stuktur  organisai garis dan staff  dengan struktur  organisasi yang lainnya, maka penulis akan uraian ciri-ciri organisasi garis dan staff adalah :

a)      Organisasinya besar dankomplek

b)      Jumlah kayawannya banyak

c)      Daerah kerjanya luas

d)     Hubungan kerja yang bersifat langsung tidak mungkin lagi.

e)      Pimpinan dan sesama karyawannya tidak lagi saling kenal semua

f)       Speisialisasi diperlukan beraneka ragam dan digunakan secara maskimal.

Adapun kebaikan-kebaikan dari pada organisasi garis dan staaf ini antara lain:

  1. Dapat digunakan  oleh setiap organisasi yang bagaimanapun tujuannya dengan  tugas yang luas dan susunan  organisasnya yang komplek.
  2. Adanya pembagian tugas yang jelas antara pimpinan staf  dan pelaskana.
  3. Bakat yang ada pada masing-masing karyawan dapat dikembankan menjadi spesialisasi.
  4. Prinsip penempatan the righ on the right  place lebih mudah diterapkan.
  5. Pengambilan  keputusan  yang sehat lebih dicapai karena ada anggota-anggota staff yang ahli dalam bidangnya masing-masing yang nmmeberi nasehat danmngerjakan perencanan secar ateliti.
  6. Koordinasi dapat  juga dengan mudah dikerjakan karena sudah ada pembidangan tugas masing-masing.
  7. Disiplin dan moril pada karyawan biasanya tinggi karena tugas yang dilaksanakan oleh seseorang sesuai dengan bakat, keahlian dan pengalamannya.

Disamping kebaikan-kebaikan seperti tersebt daitas, maka pada bentuk organisasi garis dan staff ini terdapat juga beberapa keburukan diantaranya:

  1. Rasa solidaritas  para karyawan tidak begitu tingi seperti dalam organisasi garis, karena organisasnya besar, sehingga pimpinan tidak lagi dapat mengenai semua karyawan yang ada.
  2. Bagi para pelaksana tidak selalu jelas mana yang perintah dan yang mana yang nasehat, karena mempunyai dua orang atasan, yaitu :

–          Atasan yang ditentukan dalam garis pimpinan yang mempunyai kekuasaan mengambil keputusan dan berhak  untuk memerintah.

–          Staff tingkat atas yang memberikan nasehat, perlu ditaati karena nasehat yang diberikan berdasarkan kehalian dan wewenang funsional.

Organisai Fungsional

Organisasi fungsional adalah suatu organisasi dimana wewenang dari pimpinan tertinggi  dilimpahkan akepada para kepala unit yang memimpin unit pelaksana di bawahnya dalam suatu bidang pekerjaan tertentu. Tiap kepala unit mempunyai wewenang untuk memerintah para pejabat unit-unit pelaksana bawahan tadi sepanjang  menyangkut bidang  pekerjaan tertentu tadi.

Tipe organisasi fungsional ini mempunyai banyak kebaikan diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Pembidangan tugas-tugas jelas, sehingga kesimpang siuran dapat dihindarkan.
  2. Kehalian para karyawan dapat dikembangkan dan digunakan semaksimal mungkin.
  3. Solidaritas moril dan disiplin antara karyawan yang menjalankan fungsi yang sama umumnya tinggi.
  4. Koordinasi antara karyawan yang menjalankan fungsi yang sama biasanya mudah karena masing-masing sudah mempunyai pengertian yang mendalam mengenai bidangnnya.
  5. Koordinasi  yang menyeluruh pada umumnya cukup pada tingkat eselon atas.

Disamping kebaikan-kebaikan seperti  tersebut diatas organiasi fungsional juga mempunyai keburukan-keburukan dinataranya adalah sebagai berikut:

  1. Karyawan terlalu dispesialisasikan sehingga sulit untuk diadakan mutasi iatau Tour of Duty tanpa melalui pendidikan  intensiv terlebih dahulu.
  2. Para karyawan terlalu mementingkan biadangnya saja sehingga koordinasi yang bersifat menyeluruh sukar dilaksanakan.
  3. Memungkinkan timbul adanya rasa berlebihan dinatara karyawan yang menjalankan fungsi yang sama, sehingga dapat menimbulkan pengontakan-pengotakan atau grup-grup ikatan karyawan yang sempit.

Dalam pembentukan suatu organisasi sellau timbul pemikiran tentang arti dan kegunaan dari prinsip-prinsip organisai. Untuk merumuskan prinsip-prinsip umum organisasi  ini selalu diingat faktor-faktor :

a)            Bahwa organisasi itu tidak lain adalah hasil daripada penggabungan dari berbagai  kemungkinan-kemungkinan yang sesuai dengan keadaan tertentu.

b)            Bahwa organisasi itu merupakan suatu kekuatan yang hidup dan bergerak serta tidak beku.

c)            Bahwa organisasi itu berintikan manusia yang tidak tetap sifat dan wataknya.

Berdasarkan faktor-faktor di atas dapatlah diketengakan beebrapa prinsip organisasi sebagai berikut :

a)      Perlunya suatu struktur organisasi sebagai gambaran dari  hubungan-hubungan, dapat dipergunakan sebagai alat penyalur daripada tugas-tugas, tanggung jawab, wewenang dan perintah-perintah yang biasanya disebut  dengan prinsip unity of command dan span of management. Perlunya struktur organisasi itu senantiasi harus disesuaikan kepada keadaan dan kebutuhan  yang  selalu berubah-ubah.

b)      Perlu memelihara suatu koordinasi yang sempurna dianatara anggota-anggota maupun antara kelompok kerja, yaitu yang biasanya disebut dengan scalar principle.

c)      Exception Principle, yaitu perlunya pelaksanaan  tugas-tugas kepegawaian seperti :

  1. Menentukan jenis serta jumlah jabatan yang harus diisi.
  2. Mengusahakaan pengembangan pegawai untuk mengikuti  perkembangan segala-segalanya yang berhubungan dengan jabatan dan pekerjaan.

Untuk lebih jelasnya berikut penulis gambarkan bentuk struktur organisasi PT Bank Bukopin Cabang  Palembang mengenai tugas dan tanggung jawab dari masing-masing bagian”:

Dari gambar organisasi PT Bank Bukopin Cabang Palembang maka dapat diketahui bahwa bentuk struktur organisasi pada perusahaan ini adalah bentuk struktur organisasi fungsional. Hal ini terlihat dari adainya pembagian tugas yang jelas sehingga pada masing-masing bagian tergambar tugas-tugas dan tanggung jawab terhadap pekerjaan yang akan dilaksanakan oleh bagian-bagian tersebut. Adanya pelimpahan  wewenang  dari para manajer kepada kepala-kepala bagian  yang ada di bawahnya juga merupakan  salah satu ciri dari  struktur organisasi  fungsional ini. Dengan kata lain dapat deiketahui bahwa para manajer tersebut bewrnang untuk mengambil keputusan terutama mengenai hal-hal yang memang berhubungan untuk mengambil keputusan terutama mengenai hal-hal yang  memang berhubungan erat dengan bidangnya dan sekaligus para manager tersebut bertanggung jawab secara langsung kepada Direktur  Cabang atas kegiatan unit-unit operasional yang ada di bawahnya.

5.5. Personalia

Dalam melaksanakan aktivitasnya, PT Bank Bukopin  Cabang Palembang  memerlukan karyawan  yang berpendidikan dan berpengalaman dibidangnya masing-masing, yang terdiri dari 46 orang karyawan yang melakukan kegiatan dibidang jasa perbankan. Hal ini tentunya memerlukan suatu kerjasama baik antara satu bagian dengan bagian yang lain. Pada umumnya, baik itu nasabah ataupun calon nasabah  akan mulai mendapatkan pelayanan melaui Fron Office, baik itu dari Cutomer Service dari Teller hingga Security. Dari sini mulai informasi di dapat oleh nasabah atau calon nasabah. Di sini  manajemen  Bank Bukpin Cabang  Palembang memerlukan karyawan yang berpendidikan dan berpengalaman  dibidangnya masing-masing, yang terdiri dari 46 orangkaryawan yang melakukan kegiatan dibiadnag jasa  perbankan. Hal ini  tentunya memelrukan suatu kerjasama baik antara satu bagian dengan bagian yang lain. Pada umumnya, baik itu nasabah ataupun calon nasabah akn mulai mendapatkan pelayanan melaluiFron Office, baik itu dari Customer Service dari Teller hingga Security. Dari sini mulai informasi di dapat oleh nasabah atau calon nasabah. Di  sini mulai informasi di dapat  oleh nasabah atau calon nasabah. Di sini manajemen Bank Bukopin Cabang Palembang  mengelompokkan kegiatan  mulai dari Front Office dan Back Office untuk operasional. Sedangkan  untukkegiatankredit, itu dimulai dari sekretaris, account Officer hingga pimpinan atau manajer. Pengelompokan  ini dilakukan untuk memeprmudah baik dari segi pembagian tugas dan wewenang yang akan  diberikan kepada pejabat yang dianggap mempunyai kemampuan dalam melaksanakan tugas. Yang mana hal ini akan berakibat antara fungsi-fungsi dalam Bank Bukopin saling berinteraksi, dan mempunyai hubungan yang sangat erat. Baik itu itern Bank Bukopin maupunekstern Bank Bukopin.

Dalam hal ini dapat kita ambil contoh, misalnya dalam pembukuan rekening gironasabah,disini yang terlibat adalah bagian front office (costumer dan teller), account officer, legal, dan manajer. Mengapa ini penting,karena setiap bagian mempunyai kepentingan dalam hal ini misalnya cotumer, karena setiap bagian mempunyaikepentingan  dalam hal ini misalnya cotumer. Di sini  merke akan memberikan informasi kepada nasabah atau calon nasabah  bagiamanamelakukan pembukuan giro, dan syarat-syarat apa yang harus dpenuhi dan mengetahui keabsahan dokumen-dokumen yang akan diberikan oleh nasabah. Sedangkan  bagian account officer adalah bagian yang nantinya akan memaintaince nasabah tersebut, dan memprediksi kira-kira apa yang bisa diambil peluang bisnis dari nasabah  tersebut. Abgian legal melihat apakah ketentuan-ketentuan hukum dari nasabah atau calon  nasabah tidakmelanggar dari peraturan perusahan, peraturan Bank Indonesia, pemerintah baik itu hukum perdata maupun pidana. Dan manahger menyetujui bahwa kelayakan pembukuan account tersebut.

Jadi jelas disini terlihat bahwa antara satu dengan yang lain mmepunyai suatu  keterkaitan yang sangat  erat. Begitu juga erjadi pada bidang operasional, yang mana hal ini lebih melihat suatu ketelitian dan ketepatan dalam melaksanakan tugas. Hal  tersebut sangat diperlukan bahwa bank adalah suatu  publik service (perusahaan jaa) yang memberikan pelayanan jasa kepada masyarakat dan selanjutnya diharapkan oleh pihak  bank dapat memberikan suatu kepercayaan atau image terhadap bank, dipastikan bahwa bank tersebut akan cepat berkembang. Hubungannya dengan operasional bank disini setiap bagian mempunyai peranan terhadap hal itu. Contohnya adalah dari pelayanan transfer dan pajak melalui Bank Bukopin. Di sini  yang terkait adalah teller, bagian transfer, bagian pajak dan perjabat bank yang memberikan kuasa. Jadi  dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat suatu hubungan antara fungsi-fungsi, jabatan-jabatan, tugas-tugas dan para karyawan.diantara mereka ada suatu proses pelaksanaan tugas, yang mana masing-masing mempunyai tugas dan tanggung jawab masing-masing.

Berikut ini akan disajikan data mengenai  jumlah karyawan berdasarkan status dan jenjang pendidikan pada PT Bank Bukopin Cabang Palembang untuk tahun 2001.

Tabel. 5.7

Jumlah Karyawan PT. Bank Bukopin

Cabang Palembang

No Bagian Jumlah Karyawan
1 Manager Bisnis: 1
– Manager Operasi 1
– Manager Consumer Banking 1
– Manajer Koperasi Kop & Usaha Kecil 1
– Manajer Mikro 1
-Manajer Komersil 1
2 Bagian Front Office: 5
– Teller 4
– Customer Service 2
3 Back Office: 6
– Kliring 1
– Kontrol /MIS 2
– Admk/Transfer 1
– Pajak 1
– Deposito 1
– Sundrics 2
– SDM /Sarlog 1
4. Suporting 9
– Legal 1
– Credit Inverstigation 1
– Pengawas Operasi Swamitra 1
– Residen Inspektur 1
5 Account Officer : 4
– A/OKOmersial 3
– A/O IBG 3
– A/O UKM 3
9
6 Satpam 6
6
7 Prbakti/Office Boy 3
3
8 Driver/Pengemudi 4
4
TOTAL 46

SUMBER : PT Bank Bukopin Cabang Palembang 2001

Untuk lebih jelasnya, maka di bawah ini akan disajikan data mengenai karyawan pada PT Bank Bukopin Cabang Palembang  berdasarkan statusnya sebagai berikut :

Tabel. 5.8

Rincian Pegawai Berdasarkan Status

PT Bank Bukopin Cabang Palembang

No

Status Kepegawaian

Jumlah

Persentase

1

Pegawai Tetap

23

50

2

Calon Pegawai

17

36.95

3

Pegawai Honor

6

13.05

Jumlah

46

100

Dari  tabel diatas, maka dapat ketahui bahwa jumlah pegawai yang  ada pada PT Bank Bukopin Cabang Palembang sebanyak 46 orang dengankomposisi pegawai tetap sebanyak 23 orang atau sebanyak 505, calon pegawai sebanyak 17 orang atau sebanyak 36, 95% dan pegawai honor sebanyak 6 orang atau sebanyak 13,05 %. Status calon pegawai ini dikenakan   bagi karyawan yang baru diterima diPerusahaan ini dan masih dalam masa training/latihan.

Sedangkan data pegawai berdasarkan tingkat pendidikannya akan disajikan dalam tabel. 5.9 berikut :

Tabel. 5.9

Rincian Pegawai Berdasarkan Status

PT Bank Bukopin Cabang Palembang

No

Status Kepegawaian

Jumlah

Persentase

1

Sarjana

12

26.08

2

Sarjana Muda

21

45.65

3

SMTA

13

28.27

Jumlah

46

100

Sumber : PT Bank Bukopin Cabang Palembang

Dari  data diatas, maka dapat diketahui bahwa dapat diketahui dari 46 orang karyawan yang bekerja pada PT. Bank Bukopin Cabang Palembang ini terdapat 12 orang  yang karyawan lulusansarjana atau sebesar 26,08% dan 21 orang karyawan lulusan  sarjana muda atau sebesar 45, 65 % serta 13 orang karyawan lulusan SMTA atau sebesar 28, 27 %.

5.6. Aktivitas Perusahaan

Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan  oleh suatu perusahaan di dukung dengan aktivitas perusahaan yang manntap dan efektif. Agar semua kegiatan yang dilaksanakan dapat memenuhi sasaran atau keinginan yang diharapkan oleh perusahaan. Di samping itu juga aktivitas perusahaan akan menghasilkan kemajuan  dan kemunduran dari suatu perusahaan  karena  dengan banyaknya kegiatan yang dilaksanakan merupakan suatu kesempatan untuk mendapatkan keuntungan dari usaha yang dijalankan PT Bank Bukopin Cabang Palembang adalah jasa perbankan, yang meliputi :

  1. Giro

Adalah simpanan wajib pihak ke tiga pada bank yang pengambilannya dapat dilakukan  setiap saat dengan mempergunakan media cheque, surat perintah pembayaran lainnya atau dengan cara pemindahan bukuan.

  1. Deposito Berjangka.
    1. Deposito Umum adalah simpanan pihak  ketiga pada bank dalam jangka waktu tertentu.
    2. Deposito Mederka adalah simpanan pihak ketiga pada bank dalam jangka waktu tertentu akan tetapi dapat ditarik kapan saja tanpa dikenakan denda pinalti.
    3. Deposito On Call adalah simpanan pihak ketiga pada bank dalam jangka  waktu tertentu, yang biasanya periode kurang dari 1 bulan,  seperti 3 hari, 1 minggu, 2 minggu atau 3 minggu.
    4. Tabungan

Tabungan adalah satu satu produk perbankan dalam  bentuk simpanan yang dapat ditarik setiap saat.

Adapun produk PT Bank Bukopin untuk tabungan adalah :

  1. Tabungan Siaga :

1)      Tabungan siaga rumah tangga.

2)      Tabungan siaga mahasisa.

3)      Tabungan siaga siswa

  1. Tabungan Sikosi:

1)      Tabungan sikosi perorangan

2)      Tabungan sikosi badan.

  1. Pinjaman

Pinjaman adalah satu satu fasilitas pelayanan./jasa  dari pihak bank yang diberikan kepada individu atau pengusaha yang membutuhkan dana. Adapaun jenis pinjamannya antara lain :

  1. Pinjaman modal kerja
  2. Kliring
  3. Inkasso
  4. Anjungan tunai mandiri (ATM)
  5. Pembayaran telkom, telkomsel, listrik.

Dalam kegiatan operasionalnya,banyak kegiatan-kegiatan yag dilakukan oleh aparat/petugas yang terkait pada tugas-tugas mereka masing-masing, baik itu yang oleh front office ataupun yang dilakukan  leh back office. Kegiatan ini  dilakukan dalam memeprlancar dan memberikan pelayanan yang memuaskan bagi nasabah baik itu nasabah yang sudah exist atau kepada calon nasabah yang mempunyai prospek.

Seperti kita ketahui pelayanan  yang baik adalah salah satu syarat b agi perusahaan yang bergerak dibidang jasa, khususnya perbankan hal ini menjadi hal yang terpenting. Memangn dalam memberikan pelayanan terkadang atuaran yang dibuat oleh perusahaan ntersebut. Khususnya  apabila kita melihat dalam rangka efisiensi dan efektivitas. Maka seorang pimpinan natau manajer  harus benar-benar teliti dalam pengambilan keputusan. Baik itu dalam  rangka pengambilan kebijakan –kebijakan, ataupun dalam rangka meningkatkan efektivitas kerja karyawan.

5.7. Pembagian Kerja

Dari bentuk organisasi pda PT Bank Bukopin Cabang Palembang dalam menjalankan aktivitasnya mengadakan pembagian tugas kepada masing-masing pegawai mulai dari tingkat atas sampai pada tingkat yang paling bawah

Adapun pembagian kerja atau tugasnya adalah sebagai berikut :

  1. Direktur Cabang

Tugasnya adalah :

  1. Memimpin baik secara keseluruhan pada kantor pusat dari berbagai wilayah.
  2. Membawahi empat  yaitu direktur kepatuhan, direktur  operasi, direktur usaha kecil dan pedesaan serta direktur komersial.
  1. Skeretaris

Tugasnya adalah :

  1. Mencatat surat masuk dan keluar
  2. Membuat laporan rapat pimpinan
  3. Mencatat janji-janji danmengingatkan pimpinan terhadap janji yang telah dibuat.
  4. Membuat surat-surat untuk pihak  luar.
  5. Manager Operasi (MO)

Tugasnya adalah :

  1. Mengepalai kantor dan  mengatur seluruh kegiatan operasional kantor serta menjadi suporting bagi unit bisnis  yang lain.
  2. Menandatangai semua surat berharga, bang garansi, referensi bank dan lainnya yang berhubungan dengankegiatan operasional bank.
  3. Melakukan pembinaan terhadap nasabah penyimpanan baik adinistratif maupun kunjungan kepada nasabah.
  4. Mengawasi  dan menjadminkelancaran operasional bank.
  5. Manager Unit Bisnis Consumer Banking (MUB CB).

Tugasnya adalah :

  1. Melakukan pengelolaan dibidang simpanan untuk individu.
  2. Melakukan pengelolaan dibidang perkreditan untuk individu.
  3. Melakukan pengelolaan dibidang pembautan laporan.
  4. Manager Kredit Koperasi dan Usaha Keci

Tugasnya adalah Mensupervisi seluurhstaf marketing yang ada di bawah supervisinya seperti melakukan lending dan funding. Maanager Unit Bisnis KUK hanya mensupervisikan kredit di atas 50 juta yang ditujukan bagi pengusahapengusaha besar.

  1. Manager Unit Bisnis Mikro (MUB Mikro).

Tugas adalah mensupervisi seluruh staf marketing yang ada dibawah supervisinya. Dan bagian ini hanya m enangani kredit bagi pengusaha kecil untuk 50 juta ke bawah.

Dalam melakukan tugasnya baik MUB KUK dan MUB Mikro dibantu oleh Account Officer (AO).

  1. Mengadakan kunjungan-kunjungan kepada calon debitur.
  2. Menerima aplikasi permohonan kredit dari sekretaris yang selanjutnya melakukan penelitian dan pemeriksaan yaitu analisa kebutuhan kredit, melakukan penilaian kaminan/agunan kredit dan mengajukan pertimbanganuntuk approval/persetujuan kredit.
  3. Menampaikan keputusan kredit.
  4. Manager Komersil

Tugasnya adalah :

  1. Menangani sektor usaha menengahdan besar untuk mengimbangi biaya-biaya yang dikenakan dengan bentuk subsidi silang.
  2. Mengawasi pelaksanaan supervisi dan memonitoring kredit kepada nasabah.
  3. Membantu line of busines.
  4. Membantu risk management.
  5. Kabag Administrasi dan Pelayanan

Tugas adalah memonitoring kegiatanoperasioal bank, serta membantu tugas-tugas Manager Operasi (MO).

  1. Teller

Tugasnya adalah :

  1. Membukukan setoran penarikan tunai maupun non tunai dalam buku tabungan, deposito, giro dan ansuran kredit.
  2. Menghitung jumlah penerimaan dan  pegeluaran  kas tiap hari.
  3. Membuat laporan-laporan mutasi kas dari masing-masing  teller dan vault.
  4. Service Assistant

Tugasnya adalah :

  1. Memberikan  pelayanan kepada nasabah dan calon nasabah untuk membuka tabungan, giro depsoito, pembuatan kartun ATM dan lain-lain.
  2. Menerima setiap complain dari nasabah,kemudian di follow-up sesuai dengan ketentuannya.
  3. Memberikan informasi produk-produk Bank Bukopin kepada nasabah dan calon  nasabah.
  1. Back Office

Tugasya adalah :

  1. Bagian Sundries yaitu pekerjaan yang menyangkut pihak luar seperti standing instruction (SI), dan segala sesuatu yang berhubungan dengan pihak luar, serta membukukannya.
  2. Bagian Transfer yaitu pekerjaan yang berhubungan dengan kiriman uang nasabah, baik debitur  walking klien baik ke kota lain dan bank lain, serta  membukukannya.
  3. Bagian Deposito yaitu petugas yang melaksanakan pembukukan deposito, dan melakukan perhitungan deposito masing-masing nasabah, serta membukukannya.
  4. Bagian Administrasi Kredit yaitu petugas yang memonitoring kewajiban debitur terhadap bank Bukopin dan melakukan pembukuan terhadap pendapatan bunga serta penurunan pokok pinjaman debitur.
  5. Bagian kliring yaitu petugas yang melakukan tugas terhadap wakat yang beredar baik Bukopin atau bank lain yang memberikan nasabah dan membukukannya.
  6. Control  yaitu petugas yang memonitoring semua kegiatan pembukukan operasional bank.
  7. Credit Investigation (CI) yaitu petugas yang melakukan taksiran harga terhadap jaminan yang diberikan oleh calon debitur atau debitur.
  8. Legal yaitu petugas yang melihat segala kegiatan bank baik dari segi kredit dan operasional dari sudut pandang hukum/legal.
  9. Sarlog (Sarana dan logistik) yaitu petugas yang melakukan pengada,perbaikan nterhadap kebutuhan operasional bank.
  10. Sumber Daya Manusia (SDM) yaitu petugas yang  melakukan pembayaran gaji karyawan, memonitoring kedisiplinan karyawan serta kepatuhan terhadap peraturan.

Seperti yang telah dijelaksan dalam bab I dalam melaksanakan kegiatannya PT Bank Bukopin ini menginginkan agar semua karyawan dapat melakukan semua pekerjaan atau tugas dengan baik. Tapi dalam hal ini PT Bank Bukopin masih mengalami suatu masalah atau hambatan terutama pada unit kerja Back Office yang  mempunyai sub-bagian kliring, bagian  kontrol, bagian administrasi kredit, bagian transfer, bagian pajak, bagian deposito dan bagian sundris.

Pada unit kerja back office terlihat  masih adanya pembagian kerja yang kurang baik, dimana suatu pekerjaan yag dikerjakan oleh seorang karyawan bagian administrasi kredit melakukan juga pekerjaan bagian transfer sehingga menyebabkan  karyawan tersebut tidak dapat menyelsaikan pekerjaannya sesuai jadwal yang ditentukan  dan sering terjadi penundaan pekerjaan sehingga berdampak pada lambatnya pelayanan bagian administrasi kredit pada PT Bank Bukopin  terhadap nasabah, sehingga nasabah merasa tidak puas terhadap pelayanan tersebut.

Hal yang paling mudah untuk dilihat adalah  kegiatan transfer rata-rata dalam sehari biasanya memiliki nasabah berjumlah  antara 20-30 orang dan bagian  aadministrasi kredit biaanya memiliki nasabah  sebanyak 15-30 orang nasabahdan kesemunya ituharus dilayani dan diselesaikan pada hari itu juga.

Dengan adanya perangkapan tugas ini, karyawan tersebut hanya dapat melayani nasabah untuk bagian administrasi kredit sebanyak 8-16 orang per hari dan untuk nasabah  transfer sebanyak 12-22 orang perhai.hal ini sangat tidak realitisi karena jika kedua bagian ini hanya  dikerjakan oleh satu orang saja  maka akan terjadi infisiensi.

Dari data diatas, maka dpat diketahui ada sekitar 15 orang nasabah yang memrlukan jasa bagian transfer yang tidak dapat dilayani dalam satu hari kerja sedangkan untuk bagian administrasi kredit terdapat 8-10 orang yang tidak dapat  dilayani oleh Bank Bukopin Cabang Palembang hal ini tentunya akan menyebabkan nasabah tidak merasa puas atas pelayanan yang diberikan oleh Bank Bukopin Cabang Palembang.

Ini terjadi karena adanya perangkapan pelaksanaan tugas dari pembagian kerja tersebut. Sehingga  fungsi dari organisasi yang sesungguhnya itu kuran berjalan dengan baik. Seharusnya bagian administrasi kredit melakukan tugasnya sendiri dan bagian transfer dilakukan oleh karyawan tersendiri karena pada masing-masing tugas memerlukan waktu dan konsentrasi dalam melaksanakan pekerjaan tersebut selesai secara maksimal. Dnegan kata lain karyawan dapat bekerja secara efektif bila karyawan melakukan pekerjaan sesuai dengan pembagian kerja yang baik.

5.8. Pendelegasian Wewenang dan Tanggung Jawab

Di dalam organisasi, pendelegasian wewenang merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dengan tanggung jawab, karenan pendelegasian wewenang tersebut lahir dari tugas itu sendiri. Berarti sekaligus memberikan wewenang yang dibutuhkan dalam menyelesaikan tugas yang dibebankan dalam menyelesaikan tugas yang dibebankan tersebut.

Dalam pendelegasian wewenang, seorang manajer suatu pimpinan perusahaan tidak berarti melepas sama sekali wewenangnya itu, meskipun telah didelegasikan. Oleh karena itu seorang manajer sebagai si pemberi wewenang tetap bertanggung jawab dan kewajiban untuk memperhatikan serta mengawasi pelaksanaan pekerjaan para bawahannya guna mengetahui dan menilai sampai sejauh mana bawahan tersebut dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Bilaman seorang bawahan yang menerima wewenang itu telah melaksanakan kewajibannya, maka berarti ia bertanggung jawab atas tugas yang diterima dari atasan.

Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa pendelegasian wewenang dan tanggung jawab sangat penting bagi perusahaan. Apabila dalam perusahaan tidak melakukan pendelegasian wewenang dan melaksanakan tugas atau pekerjaannya maka kemungkinan besar akan terjadi tumpang tindih atau kekosongan dalam pelaksanaan pekerjaan.

Adapun pendelegasian wewenang pada PT Bank Bukopin Cabang Palembang diberikan menurut jenjang struktur organisasi yaitu dari Direktur Cabang, Manajer Operasi, Manajer Unit  Bisnis Koperasi dan Usaha Kecil, Manajer Unit, Bisnis Mikro, Manajer Unit Bisnis Consumer Banking Kabag Administrasi dan Pelayanan, Teller, Service Assistant, Back Office, Bagian Transfer, Bagian ajak, Bagian Administrasi Kredit, Bagian Kliring, Bagian Conrol, Credit Investigation, Legal, Sarlog, SDM.

Dalam pelaksanaan pendelegasian wewenang dan tanggung jawab belum berjalan sebagaimana mestinya. Dimana manajer-manajer terutama manajer operasi tidak dapat mengambil keputusan untuk melaksanakan pekerjaan yang telah ditentukanm. Keadaan ini disebabkan Direktur Cabang masih turut campur tangan secara langsung terhadap pelaksanaan kerja pada Manajer Operasi. Hal ini dapat dilihat dari pengurus kantor dan pengatur seluruh kegiatan operasional kantor yang menjadi suporting bagi unit bisnis yang lain dan kegiatan penandatanganan semua surat berharga, bank garansi, referensi bank dan lainnya yang berhubungan dengan kegiatan operasional bank.

Seringkali Direktur Cabang masih turut campur tangan secara langsung dalam memutuskan kegiatan penandatangan surat-surat berharga yang seharusnya menjadi wewenang dan tanggung jawab manajer operasi. Hal ini tentunya akan menyulitkan manajer operasi dalam memutuskan hal-hal yang memang berhubungan dan menjadi tanggung jawab.

Posted on June 4, 2011, in AKUNTANSI and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: