Pengetahuan Perawat tentang Kegawatan Nafas dan tindakan Resusitasi pada Neonatus yang Mengalami Kegawatan Pernafasan di Ruang NICU, Ruang Perinatologi dan Ruang Anak RSUD Gunung Jati Cirebon

ABSTRAK

 

            Pengetahuan perawat tentang kegawatan nafas dan tindakan resusitasi pada neonatus yang mengalami kegawatan pernafasan sangat penting dalam pembentukan perilaku untuk melakukan tindakan resusitasi yang efektif. Pengetahuan ini mencakup konsep kegawatan pernafasan, konsep asuhan keperawatan pada neonatus yang mengalami kegawatan pernafasan, dan konsep dasar resusitasi dan konsep tindakan resusitasi yang meliputi tindakan pengelolaan jalan nafas (airway), pemberian nafas buatan (breathing) dan tidakan pemijatan dada (circulation). maka perawat harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang konsep resusitasi.

            Populasi penelitian ini adalah perawat Ruang NICU, Ruang Perinatologi dan Ruang Anak RSUD Gunung Jati Cirebon yang berjumlah 35 orang, dan tehnik penarikan sampel yang digunakan adalah dengan tehnik total sampling . Jenis penelitian adalah deskriptif. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner yang mempunyai skala 1 untuk jawaban yang benar dan 0 untuk jawaban yang salah dan dianalisa untuk mendapatkan kriteria baik, cukup dan kurang.

            Hasil penelitian ini menggambarkan pengetahuan perawat tentang kegawatan nafas dan tindakan resusitasi pada neonatus yag mengalami kegawatan pernafasan di Ruang NICU, Ruang Perinatologi dan Ruang Anak, dimana pengetahuan perawat yang dikategorikan baik adalah 40%, cukup 46% dan  kategori kurang adalah 14%.

            Berdasarkan penelitian ini disarankan bahwa pengetahuan perawat dan keterampilan tindakan resusitasi untuk selalu ditingkatkan  baik formal maupun nonformal sehingga dalam pemberian asuhan keperawatan pada situasi kritis dapat  dilakukan dengan lebih efektif dan bagi pihak rumah sakit bertanggung jawab memberikan fasilitas dan sarana yang memadai bagi tenaga keperawatan untuk dapat meningkatkan pengetahuan baik berupa pelatihan maupun pendidikan berjenjang dalam rangka memberikan pelayanan prima kepada masyarakat.

BAB  I

PENDAHULUAN

 

 

1.1   Latar Belakang

            Kebijakan pemerintah dalam pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010 menempatkan kesehatan ibu dan anak sebagai prioritas penting karena anak adalah harapan bangsa di masa yang akan datang. Kemajuan bangsa di masa mendatang akan sangat tergantung dari kondisi kesehatan anak saat ini.

            Dalam rencana pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010 terdapat beberapa program unggulan yang berhubungan dengan kesehatan anak yaitu program perbaikan gizi, penanggulangan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, peningkatan kesehatan keluarga, kesehatan reproduksi dan keluarga berencana, kesehatan lingkungan pemukiman, air dan udara sehat dan pencegahan kecelakaan. Program-program tersebut dilakukan melalui upaya kesehatan seperti pemeriksaan ibu hamil, imunisasi, pertolongan persalinan, penanggulangan penyakit-penyakit penyebab kematian, deteksi dini dan stimulasi tumbuh kembang anak serta upaya kesehatan sekolah.

1

            Beberapa indikator terkait dengan kesejahteraan anak menjadi indikator penting dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat secara keseluruhan terutama dalam menilai keberhasilan pelayanan kesehatan dan pembangunan di bidang kesehatan. Indikator tersebut adalah angka kematian bayi (AKB) dan angka kematian balita (AKABA).

 Angka kematian bayi (AKB) atau Infant Mortality Rate (IMR) adalah jumlah kematian   bayi di bawah usia 1 tahun per 1000 kelahiran hidup. Angka ini merupakan indikator yang sensistif terhadap ketersediaan, pemanfaatan dan kualitas pelayanan kesehatan terutama pelayanan perinatal. AKB juga berhubungan dengan pendapatan  keluarga, jumlah anggota keluarga, pendidikan ibu dan keadaan gizi keluarga.

            Angka kematian bayi (AKB) pada tahun 2000 berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) adalah 44 per 1000 kelahiran hidup. Sementara estimasi SUSENAS, angka kematian bayi pada tahun 2001 adalah 50 per 1000 kelahiran hidup.  Kematian bayi tersebut disebabkan oleh penyakit-penyakit seperti yang tercantum pada tabel di bawah ini :

 

Tabel 1.1

Proporsi Penyakit Penyebab Kematian Bayi di Indonesia Tahun 2001

No. Jenis Penyakit %
1.

Gangguan Perinatal

34,7 %
2.

Sistem Pernafasan

24,6 %

3.

Diare

9,4 %

4.

Sistem Pencernaan

4,3 %

5.

Gejala Tidak Jelas

4,1 %

6.

Tetanus

3,4 %

7.

Syaraf

3,2 %

 Sumber : SURKESNAS 2001

             Indikator selanjutnya adalah angka kematian balita (AKABA). Angka kematian balita adalah jumlah anak yang meninggal  sebelum mencapai usia 5 tahun per 1000 kelahiran hidup. Angka kematian balita ini menggambarkan keadaan lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan balita seperti gizi, sanitasi, penyakit menular dan kecelakaan.

            Angka kematian balita pada tahun 2001 menurut SUSENAS adalah 64 per 1000 kelahiran hidup.  Penyebab kematian balita menurut SUSENAS 2001 dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 1.2

Pola Penyakit Penyebab Kematian Balita di Indonesia Tahun 2001

No. Jenis Penyakit  

%

 

 

1.

Sistem Pernafasan

22,8 %

2.

Diare

13,2 %

3.

Syaraf

11,8 %

4.

Tifus

11,1 %

5.

Sistem Pencernaan

5,9 %

6.

Infeksi Lain

5,1 %

 Sumber : SURKESNAS 2001

             Berdasarkan data di atas maka penyebab terbanyak kematian bayi dan balita adalah gangguan perinatal dan penyakit-penyakit sistem pernafasan. Menurut Yunanto, dkk (2003) upaya menurunkan angka kematian bayi dilakukan dengan mempercepat usaha rujukan agar bayi resiko tinggi dapat segera mendapat pertolongan. Bayi-bayi yang termasuk ke dalam kelompok resiko tinggi adalah bayi berat lahir rendah (BBLR), asfiksia pada bayi baru lahir, kejang, sesak nafas, perut kembung, kuning pada bayi dan perdarahan pada bayi.

Rujukan pelayanan kesehatan ini terutama ditujukan kepada bayi baru lahir beresiko tinggi yang mengalami kegawatan perinatal atau perinatal distress. Kegawatan perinatal disebabkan oleh berbagai gangguan yang berpotensi meningkatkan kematian atau kesakitan pada neonatus. Akibat gangguan tersebut bayi akan sakit sehingga pertumbuhannya terhambat atau kemampuan adaptasinya terganggu atau bahkan menimbulkan kematian.

Kegawatan perinatal ini bisa terjadi pada bayi aterm maupun preterm, bayi dengan berat lahir cukup maupun dengan berat lahir rendah (BBLR). Bayi dengan BBLR yang pretrem berpotensi mengalami kegawatan lebih besar. Berbagai jenis kegawatan yang sering dijumpai di lapangan dan mempunyai angka morbiditas dan mortalitas cukup tinggi serta penanganan segera yaitu trauma kelahiran, asfiksia neonatorum, sindroma gawat nafas neonatus, hiperbilirubinemia, infeksi, kejang dan renjatan atau syok (Yunanto, dkk, 2003).

Kegawatan pernafasan juga dapat terjadi pada bayi dengan penyakit pernafasan dapat menimbulkan dampak yang cukup berat bagi berupa terjadinya henti nafas atau bahkan kematian. Akibat dari gangguan pada sistem pernafasan adalah terjadinya kekurangan oksigen (hipoksia) pada tubuh.

bayi akan beradapatasi terhadap kekurangan oksigen dengan mengaktifkan metabolisme anaerob. Apabila  keadaan hipoksia semakin berat dan lama, metabolisme anaerob akan menghasilkan asam laktat. Dengan memburuknya keadaan asidosis dan penurunan aliran darah ke otak maka akan terjadi kerusakan otak dan organ lain (Yu dan Monintja, 1997).  Selanjutnya dapat terjadi depresi pernafasan yang dimanifestasikan dengan apneu yang memanjang bahkan dapat menyebabkan kematian.

Depresi nafas yang dimanifestasikan dengan apneu yang memanjang hanya dapat diatasi dengan pemberian oksigen dengan tekanan positif, massase jantung eksternal dan koreksi keadaan asidosis. Hanya setelah oksigenasi dan perfusi jaringan diperbaiki maka aktivitas respirasi dimulai (Yu dan Monintja, 1997).

Pendapat tersebut menekankan pentingnya tindakan resusitasi dengan segera. Makin lambat dimulainya tindakan resusitasi yang efektif maka akan makin lambat pula timbulnya usaha nafas dan makin tinggi pula resiko kematian dan kecacatan. Hal ini diperkuat dengan pendapat Nelson (1999) yang menyatakan bahwa peluang keberhasilan tata laksana penderita dengan henti nafas menitikberatkan pada pentingnya kemampuan tata laksana karena peningkatan hasil akhir pasca henti pernafasan dihubungkan dengan kecepatan dilakukannya resusitasi jantung paru.

            Resusitasi merupakan sebuah upaya  menyediakan oksigen ke otak, jantung dan organ-organ vital lainnya melalui sebuah tindakan yang meliputi pemijatan jantung dan menjamin ventilasi yang adekwat (Rilantono, 1999). Tindakan ini merupakan tindakan kritis yang dilakukan pada saat terjadi  kegawatdaruratan terutama pada sistem pernafasan dan sistem kardiovaskuler.  kegawatdaruratan pada kedua sistem tubuh ini dapat menimbulkan kematian dalam waktu yang singkat (sekitar 4 – 6 menit).

Tindakan resusitasi merupakan tindakan yang harus dilakukan dengan segera sebagai upaya untuk menyelamatkan hidup (Hudak dan Gallo, 1997).  Resusitasi pada anak yang mengalami gawat nafas merupakan tindakan  kritis yang harus dilakukan oleh perawat yang kompeten. Perawat harus dapat membuat keputusan yang tepat pada saat kritis. Kemampuan ini memerlukan penguasaan pengetahuan dan keterampilan keperawatan yang unik pada situasi kritis dan mampu menerapkannya untuk memenuhi kebutuhan pasien kritis (Hudak dan Gallo, 1997).

            Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Apabila perilaku didasari pengetahuan dan kesadaran, maka perilaku bersifat langgeng (Notoatmodjo, 2003). Perilaku manusia sangat kompleks dan mempunyai ruang lingkup yang luas. Terbentuknya suatu perilaku baru terutama pada orang dewasa dimulai dari domain kognitif, dalam arti subjek terlebih dahulu mengetahui terhadap stimulus yang berupa materi atau obyek luarnya sehingga menimbulkan pengetahuan baru pada subyek tersebut.

            Pengetahuan perawat tentang resusitasi merupakan modal yang sangat penting untuk pelaksanaan tindakan resusitasi pada situasi kritis. Pengetahuan ini menentukan keberhasilan tindakan resusitasi. Pengetahuan tentang resusitasi  didapat melalui pendidikan, pelatihan atau pengalaman selama bekerja.

            Pengetahuan tentang kegawatan nafas dan tindakan resusitasi di Ruang NICU, Ruang Perinatologi  dan Ruang Anak RSUD Gunung Jati Cirebon harus dikuasai dengan baik oleh perawat karena RSUD Gunung Jati Cirebon adalah rumah sakit pendidikan tipe B yang menerima rujukan dari Wilayah III Cirebon yang meliputi Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan.

Tabel 1.3

 Data Pasien Rawat Inap Ruang NICU

Bulan Desember 2004 – Februari 2005

 

 

No.

Bulan

Jenis Penyakit

Kasus

Kematian

%

∑ total

%

1.

 

Desember

2004

 

Prematur RDS

Asfiksia Neonatorum

Ikterik Neonatorum

Hirschprung

6

7

4

1

33.3

38.9

22.2

5.6

8

 

44.4

Jumlah

18

100

8

44.4

2.

 

Januari

2005

 

Prematur RDS

Asfiksia Neonatorum

Icterik Neonatorum

Hirschprung

8

15

2

2

29.6

55.6

7.4

7.4

13

48.1

Jumlah

27

100

13

48.1

3.

 

Februari

2005

 

Prematur RDS

Asfiksia Neonatorum

Omphalokel

Kelainan Jantung Kongenital

Palatoskizis

10

8

1

1

1

47.6

38.1

4.8

4.8

4.8

4

19

Jumlah

21

100

4

19

 

Sumber : Sub Bagian Rekam Medik RSUD Gunung Jati Cirebon

Sebagai rumah sakit rujukan, RSUD Gunung Jati Cirebon menerima rujukan pelayanan kesehatan dari beberapa rumah sakit di Wilayah III Cirebon, termasuk masalah-masalah kegawatan pada neonatus, bayi dan anak yang memerlukan perawatan lebih lanjut dan seringkali pasien-pasien yang dirujuk adalah pasien-pasien dalam keadaan kritis dengan prognosa yang buruk.

            Data pasien rawat inap di Ruang NICU  (tabel 1.3) menunjukkan jumlah pasien dan jenis-jenis penyakit serta kematian neonatus yang terjadi selama Bulan Desember 2004 sampai dengan bulan Februari 2005. Data tersebut menggambarkan prosentase kasus kegawatan pernafasan yaitu RDS dan asfiksia neonatorum sebesar 72,2 % pada bulan Desember 2004, pada bulan Januari 2005 sebesar 81,5 % dan 85,7 % pada bulan Februari 2005.

 Begitu pula data pasien rawat inap Ruang Perinatologi (tabel 1.4)  menggambarkan bahwa sebagian besar neonatus yang dirawat berpotensi mengalami kegawatan pernafasan. Sementara neonatus yang dirawat di ruang anak sebagian besar juga mengalami gangguan pernafasan dan yang paling sering adalah  bronkhopeumoni (BP) dan Ruang Anak juga merupakan ruang perawatan untuk neonatus dengan kegawatan pernafasan apabila Ruang NICU penuh.

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar neonatus yang dirawat terutama di Ruang NICU dan Ruang Perinatologi adalah penderita gangguan pernafasan yang berpotensi mengalami kegawatan pernafasan sehingga perawat harus selalu siap melaksanakan tindakan resusitasi terutama pada saat pasien jatuh ke dalam kondisi kritis untuk mencegah kecacatan atau bahkan kematian.

Tabel 1.4

Data Pasien Rawat Inap Ruang Perinatologi

Bulan Desember 2004 – Februari 2005

 

No.

Bulan

Jenis Penyakit

Kasus

Kematian

%

∑ total

%

1.

 

Desember

2004

 

Normal

Asfiksia Ringan

Asfiksia Sedang

Asfiksia Berat

BBLR

23

62

24

29

29

13,8

37,2

14,4

17,4

17,4

3

1,8

Jumlah

167

100

3

1,8

2.

 

Januari

2005

 

Normal

Asfiksia Ringan

Asfiksia Sedang

Asfiksia Berat

BBLR

23

39

21

33

31

15,6

26,5

14,3

22,4

21,2

4

2,7

Jumlah

147

100

4

2,7

3.

 

Februari

2005

 

Normal

Asfiksia Ringan

Asfiksia Sedang

Asfiksia Berat

BBLR

23

37

20

18

17

20,0

32,2

17,4

15,6

14,8

1

0,9

Jumlah

115

100

1

0,9

Sumber : Sub Bagian Rekam Medik RSUD Gunung Jati Cirebon

 

Tindakan resusitasi di Ruang NICU, Ruang Perinatologi dan Ruang Anak hampir selalu dilakukan oleh perawat karena terbatasnya tenaga dokter terutama pada saat-saat tertentu seperti pada saat  sore atau malam.  Kewenangan perawat ini telah diatur dalam kebijakan rumah sakit mengenai standar prosedur serta operasional dalam penanganan pasien neonatus, bayi dan anak yang mengalami kondisi kritis. Oleh karena itu perawat harus menguasai pengetahuan dan keterampilan resusitasi dengan baik agar dapat melakukan tindakan resusitasi secara efektif untuk mencegah kecacatan atau kematian.

Data tenaga keperawatan di Ruang NICU, Ruang Perinatologi dan Ruang Anak menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan perawat sebagian besar DIII yaitu sebanyak 28 orang, SPK sebanyak 8 orang dan bidan sebanyak 1 orang. Perawat yang telah mengikuti pelatihan resusitasi  adalah 5 orang dari 37 perawat dari tiga ruangan tersebut. Perawat yang belum mengikuti pelatihan mendapatkan pengetahuan dan keterampilan melakukan resusitasi dari contoh yang diberikan oleh kepala ruangan atau perawat yang telah mengikuti pelatihan.

 

Tabel 1.5

Latar Belakang Pendidikan Perawat Pelaksana

Di Ruang NICU, Ruang Perinatologi dan Ruang Anak

RSUD Gunung Jati Cirebon Tahun 2005

No.

Ruang

Pendidikan

Jumlah

Bidan

SPK

D3

S1

1.

NICU

-

3

9

-

12

2.

Perinatologi

1

3

7

-

11

3.

Anak

-

2

11

-

13

 

Jumlah

 

1

 

8

 

27

 

-

 

36

Sumber : Sub Bagian Kepegawaian RSUD Gunung Jati Cirebon

            Berdasarkan uraian di atas, peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian mengenai Pengetahuan Perawat Tentang Kegawatan Nafas dan Tindakan Resusitasi Pada Neonatus Yang Mengalami Kegawatan Pernafasan di Ruang NICU, Ruang Perinatologi dan Ruang Anak RSUD Gunung Jati Cirebon.

 

1.2    Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah dijelaskan diatas maka peneliti merumuskan masalah penelitian sebagai berikut, bagaimanakah pengetahuan perawat tentang kegawatan nafas dan tindakan resusitasi pada neonatus yang mengalami kegawatan pernafasan di Ruang NICU, Ruang Perinatologi dan Ruang Anak RSUD Gunung Jati Cirebon ?

 

1.3   Tujuan Penelitian

1.3.1        Tujuan Umum

Tujuan umum dari penelitian ini adalah mendapatkan gambaran mengenai pengetahuan perawat tentang kegawatan nafas dan tindakan resusitasi pada neonatus yang mengalami kegawatan pernafasan di Ruang NICU, Ruang Perinatologi dan Ruang Anak di RSUD Gunung Jati Cirebon.

 

 

 

 

1.3.2        Tujuan Khusus

Mengidentifikasi  pengetahuan perawat tentang kegawatan nafas dan tindakan resusitasi  pada neonatus yang mengalami kegawatan pernafasan di Ruang NICU, Ruang Perinatologi dan Ruang Anak RSUD Gunung Jati Cirebon meliputi :

1)     Mengidentifikasi pengetahuan perawat tentang konsep  kegawatan pernafasan pada neonatus.

2)     Mengidentifikasi pengetahuan perawat tentang asuhan keperawatan pada neonatus yang mengalami kegawatan pernafasan, meliputi pengkajian,  perencanaan dan evaluasi.

3)     Mengidentifikasi pengetahuan perawat tentang  konsep resusitasi pada neonatus meliputi pengertian, tujuan, serta teknik resusitasi terdiri dari pengelolaan jalan nafas (airway),  bantuan ventilasi  (breathing) dan  sirkulasi darah dengan cara pemijatan dada (circulation).

 

 

1.4   Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran kepada pengelola RSUD Gunung Jati Cirebon mengenai pengetahuan perawat tentang kegawatan nafas dan tindakan resusitasi  pada neonatus yang mengalami kegawatan pernafasan di Ruang NICU, Ruang Perinatologi dan Ruang Anak sehingga dapat digunakan untuk mengevaluasi keberhasilan dalam penatalaksanaan situasi krisis.

Disamping itu, hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan bagi penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan penatalaksanaan kegawatan pada neonatus di RSUD Gunung Jati Cirebon.

 

1.5    Kerangka Pemikiran

Kegawatan pernafasan pada neonatus dapat terjadi karena berbagai sebab penyakit yang mengganggu sistem pernafasan secara langsung atau karena sebab sekunder lainnya.  Kegawatan ini menimbulkan dampak negatif bagi tubuh bayi berupa terjadinya kekurangan oksigen pada tubuh (hipoksia). Tubuh bayi akan beradaptasi dengan cara mengaktifkan metabolisme anaerob yang menghasilkan asam laktat. Keadaan asidosis dan penurunan aliran darah ke otak dapat menyebabkan kerusakan pada otak  (Yu dan Monintja, 1997).

Akibat dari hipoksia akan bertambah buruk apabila tidak segera dilakukan  penanganan yang sempurna sehingga tujuan  tindakan yang dilakukan  untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya dan membatasi gejala lanjut yang mungkin timbul tidak tercapai.

Pada neonatus yang mengalami kekurangan oksigen akan terjadi pernafasan yang cepat dalam periode yang singkat. Apabila hipoksia berlanjut, gerakan pernafasan akan berhenti, denyut jantung mulai menurun dan tonus otot neuromuskuler berkurang secara berangsur-angsur. Pada fase ini akan terjadi apneu primer. Apabila hipoksia berlanjut, denyut jantung terus menurun, tekanan darah akan semakin menurun, bayi akan terlihat lemas (flacid), kadar  oksigen dalam darah darah terus menurun, bayi tidak bereaksi terhadap rangsangan dan tidak menunjukan upaya pernafasan secara spontan. Pada fase ini akan terjadi apneu sekunder dan akan terjadi kematian bila tidak segera dilakukan resusitasi dengan pernafasan buatan (Syaifuddin,2002).

Secara klinis keadaan apneu primer atau apneu sekunder sulit dibedakan. Hal ini berarti bahwa dalam menghadapi bayi dengan kondisi apneu, harus dianggap bahwa bayi mengalami apneu sekunder dan harus segera dilakukan resusitasi.

Resusitasi bertujuan memberikan ventilasi yang adekuat, pemberian oksigen dan curah jantung yang cukup untuk menyalurkan oksigen ke otak, jantung dan alat vital lainnya. Tindakan resusitasi mengikuti tahapan yang dikenal sebagai ABC Resusitasi yaitu:

A :  Airway,  mempertahankan saluran nafas terbuka meliputi kegiatan meletakan bayi dengan posisi sedikit ekstensi, menghisap mulut dan hidung bayi .

B :  Breathing, memberikan pernafasan buatan meliputi kegiatan melakukan rangsang taktil untuk memulai pernafasan, melakukan ventilasi tekanan positif dengan sungkup dan balon.

C : Circulation, mempertahankan sirkulasi (peredaran) darah meliputi kegiatan mempertahankan sirkulasi darah dengan cara kompresi dada.

Resusitasi merupakan tindakan  yang harus dilakukan dengan segera sebagai upaya untuk menyelamatkan hidup (Hudak dan Gallo, 1997). Tindakan ini memerlukan penguasaan pengetahuan dan keterampilan keperawatan yang unik pada situasi kritis dan mampu menerapkannya untuk memenuhi kebutuhan pasien kritis (Hudak dan Gallo, 1997). Keterampilan melaksanakan tindakan resusitasi merupakan salah satu kompetensi profesional yang harus dikuasai perawat dalam menghadapi situasi kritis.

 

Kegawatan Pernafasan

Pada Neonatus

Bagan 1.1  Kerangka Pemikiran

 

Baik

Kurang

Cukup

Keterangan:

:   diteliti

:   tidak diteliti

 

Kompetensi keperawatan profesional adalah perilaku yang didasarkan pada keyakinan, sikap dan pengetahuan yang sesuai dengan serangkaian hasil yang diharapkan seperti yang ditetapkan dalam area praktik keperawatan, kebijakan, kode etik, standar, pedoman dan benchmark yang menjamin kinerja yang aman dalam kegiatan profesional.

 

 Pembentukan perilaku  sangat ditentukan oleh domain kognitif sehingga apabila perilaku didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (Notoatmodjo, 2003). Dengan demikian maka agar perawat dapat melakukan  tindakan resusitasi secara efektif maka perawat harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang tindakan resusitasi itu sendiri.

1.6    Definisi Konseptual dan Operasional

1.6.1        Definisi Konseptual

1)   Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu (Notoatmodjo, 2003).

 

2)   Perawat

Berdasarkan Undang-Undang Kesehatan No. 23 Tahun 1992 pasal 1 ayat 3 dan pasal 32 ayat 3 dan 4, perawat adalah tenaga kesehatan yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh melalui pendidikan di bidang kesehatan, khususnya keperawatan   sehingga mempunyai keahlian dan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan berupa pelaksanaan praktik keperawatan.

 

3)   Resusitasi

Resusitasi adalah tindakan untuk menghidupkan kembali atau memulihkan kembali kesadaran seseorang yang tampaknya mati sebagai akibat berhentinya fungsi jantung dan paru, yang berorientasi pada otak (Tjokronegoro, 1998).

 

4)     Neonatus

Neonatus adalah bayi baru lahir sampai berumur 4 minggu (Markum, 1999).

5)     Kegawatan  Pernafasan

Kegawatan pernafasan adalah keadaan kekurangan oksigen yang terjadi dalam jangka waktu relatif lama sehingga mengaktifkan metabolisme anaerob yang menghasilkan asam laktat. Dimana apabila  keadaan asidosis memburuk dan terjadi penurunan aliran darah ke otak maka akan terjadi kerusakan otak dan organ lain. Selanjutnya dapat terjadi depresi pernafasan yang dimanifestasikan dengan apneu yang memanjang dan bahkan dapat menyebabkan kematian (Yu dan Monintja, 1997).

1.6.2        Definisi Operasional

1)   Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, yang terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Tingkat pengetahuan yang diukur dalam penelitian ini adalah tingkat pengetahuan dari rentang tahu (C1), memahami (C2), aplikasi (C3), analisa (C4), sintesis (C5) dan evaluasi (C6).  Hasil penelitian dikategorikan ke dalam 3 kriteria, yaitu responden dikatakan memiliki pengetahuan yang baik apabila   mempunyai persentase nilai antara 76 – 100%, cukup apabila 60 – 75% dan responden dikatakan memiliki pengetahuan kurang apabila persentase nilai kurang dari 60%.

Pengetahuan perawat tentang kegawatan nafas dan tindakan resusitasi pada neonatus  adalah segala sesuatu yang diketahui oleh perawat mengenai resusitasi  meliputi pengetahuan tentang konsep dasar kegawatan pernafasan, asuhan keperawatan pada neonatus dengan kegawatan pernafasan dan langkah-langkah pelaksanaan resusitasi yang meliputi:  pengelolaan jalan nafas (airway), pemberian ventilasi buatan (breathing), dan pemeliharaan peredaran darah (circulation)

 

2)   Perawat

Perawat adalah tenaga kesehatan yang  mempunyai keahlian dan kewenangan untuk melakukan pelaksanaan praktik keperawatan dan telah ditugaskan di Ruang NICU, Ruang Perinatologi dan Ruang Anak RSUD Gunung Jati Cirebon.

 

3)   Resusitasi

Resusitasi adalah tindakan untuk menghidupkan kembali atau memulihkan kembali kesadaran seseorang yang tampaknya mati sebagai akibat berhentinya fungsi jantung dan paru, yang berorientasi pada otak melalui tindakan  pembebasan jalan nafas (airway), pemberian bantuan nafas (breathing) dan pemijatan dada untuk menjaga sirkulasi yang adekwat (circulation).

 

4)   Kegawatan  Pernafasan

Keadaan dimana terjadi kekurangan oksigen pada tubuh dalam jangka waktu relatif lama yang ditandai dengan kesulitan bernafas serta ditemukan tanda-tanda seperti takhipneu, pernafasan cuping hidung, mendengkur, sianosis, pucat, kelelahan, retraksi dinding dada dan takhikardi.

 

5)            Neonatus

Neonatus adalah pasien dengan gangguan pernafasan yang dirawat di Ruang NICU, Ruang Perinatologi dan Ruang Anak RSUD Gunung Jati Cirebon dengan usia 0 – 28 hari.

BAB  II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1   Pengetahuan

2.1.1        Pengertian

Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu yang terjadi setelah melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu (Notoatmodjo, 2003). Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.

Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Apabila perilaku didasari pengetahuan dan kesadaran, maka perilaku bersifat langgeng (Notoatmodjo, 2003). Terbentuknya perilaku baru pada orang dewasa dimulai dari domain kognitif, subjek terlebih dahulu mengetahui  stimulus  berupa materi atau obyek luarnya sehingga menimbulkan pengetahuan baru pada subyek tersebut. Menurut Rogers dalam Notoatmodjo (2003) proses terbentuknya suatu perilaku baru adalah melewati tahap-tahap berikut ini, yaitu :

1)      Awareness

Menyadari/mengetahui terlebih dahulu stimulus (obyek).

2)      Interest

20

Merasa tertarik terhadap stimulus atau obyek tersebut. Disini sikap subjek sudah mulai timbul.

3)      Evaluation

Menimbang-nimbang terhadap baik tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.

4)      Trial

Subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai apa yang dikehendaki oleh stimulus.

5)      Adaption

Subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.

Namun demikian dari penelitian selanjutnya Rogers yang menyimpulkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu melewati tahap-tahap tersebut di atas.

 

2.1.2        Tingkat Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2003) Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu :

1)      Tahu

Tahu sebagai tingkatan yang paling rendah diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, dan sebagainya.

2)      Memahami

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Dengan kata lain harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya.

3)      Aplikasi

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk mengunakan materi yang telah dipelajari pada suatu kondisi sebenarnya.  Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya  dalam konteks atau situasi yang lain.

4)      Analisis

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek ke dalam komponen-komponen dalam suatu struktur organisasi yang masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan ini  dilihat dari penggunaan kata kerja seperti dapat menggambarkan, membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya.

5)      Sintesis

Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

6)      Evaluasi

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek. Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.

 

2.1.3   Pengukuran Pengetahuan

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin di ukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan domain di atas (Notoatmodjo,2003).

 

2.2            Kegawatan Pernafasan

2.2.1        Pengertian

Kegawatan pernafasan adalah keadaan kekurangan oksigen yang terjadi dalam jangka waktu relatif lama sehingga mengaktifkan metabolisme anaerob yang menghasilkan asam laktat. Dimana apabila  keadaan asidosis memburuk dan terjadi penurunan aliran darah ke otak maka akan terjadi kerusakan otak dan organ lain. Selanjutnya dapat terjadi depresi pernafasan yang dimanifestasikan dengan apneu yang memanjang dan bahkan dapat menyebabkan kematian (Yu dan Monintja, 1997).

 

2.2.2        Etiologi

Towel dalam Jumiarni, dkk (1995) menggolongkan penyebab kegagalan pernafasan pada  neonatus yang terdiri dari faktor ibu, faktor plasenta, faktor janin dan faktor persalinan.

Faktor ibu meliputi hipoksia pada ibu, usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, gravida empat atau lebih, sosial ekonomi rendah, maupun penyakit pembuluh darah ibu yang mengganggu pertukaran gas janin seperti hipertensi, penyakit jantung, diabetes melitus dan lain-lain. Faktor plasenta meliputi solusio plasenta, perdarahan plasenta, plasenta kecil, plasenta tipis, plasenta tidak menempel pada tempatnya. Faktor janin atau neonatus meliputi tali pusat menumbung, tali pusat melilit leher, kompresi tali pusat antara janin dan jalan lahir, gemeli, prematur, kelainan kongenital pada neonatus dan lain-lain. Faktor persalinan meliputi partus lama, partus dengan tindakan dan lain-lain.

Kegawatan  pernafasan dapat terjadi pada bayi aterm maupun pada bayi preterm, yaitu bayi dengan berat lahir cukup maupun dengan berat lahir rendah (BBLR). Bayi dengan BBLR yang preterm mempunyai potensi kegawatan lebih besar karena belum maturnya fungsi organ-organ tubuh.

Kegawatan sistem pernafasan dapat terjadi pada bayi yang lahir dengan berat kurang dari 2500 gram dalam bentuk sindroma gagal nafas  dan asfiksia neonatorum yang terjadi pada bayi cukup bulan.

Sindroma gagal nafas adalah perkembangan imatur pada sistem pernafasan atau tidak adekwatnya jumlah surfaktan pada paru-paru. Sementara asfiksia neonatorum merupakan gangguan pernafasan akibat ketidakmampuan bayi beradaptasi terhadap asfiksia. Biasanya masalah ini disebabkan karena adanya masalah-masalah kehamilan dan pada saat persalinan.

Sindroma gagal nafas (respiratory distress syndrom, RDS) adalah istilah yang digunakan untuk disfungsi pernafasan pada neonatus. Gangguan ini merupakan penyakit yang berhubungan dengan keterlambatan perkembangan maturitas paru atau tidak adekwatnya jumlah surfaktan dalam paru (Suriadi dan Yuliani, 2001). Gangguan ini biasanya dikenal dengan nama hyaline membran desease (HMD) atau penyakit membran hialin karena pada penyakit ini selalu ditemukan membran hialin yang melapisi alveoli.

Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi dimana bayi tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir. Keadaan ini disertai dengan hipoksia, hiperkapnia dan berakhir dengan asidosis.

 

2.2.3        Patofisiologi

Kegawatan pernafasan  dapat terjadi pada bayi dengan gangguan pernafasan yang dapat menimbulkan dampak yang cukup berat bagi bayi berupa kerusakan otak atau bahkan kematian.

Akibat dari gangguan pada sistem pernafasan adalah terjadinya kekurangan oksigen (hipoksia) pada tubuh. bayi akan beradapatasi terhadap kekurangan oksigen dengan mengaktifkan metabolisme anaerob. Apabila  keadaan hipoksia semakin berat dan lama, metabolisme anaerob akan menghasilkan asam laktat.

Dengan memburuknya keadaan asidosis dan penurunan aliran darah ke otak maka akan terjadi kerusakan otak dan organ lain karena hipoksia dan iskemia (Yu dan Monintja, 1997).

Pada stadium awal terjadi hiperventilasi diikuti stadium apneu primer. Pada keadaan ini bayi tampak sianosis, tetapi sirkulasi darah relatif masih baik. Curah jantung yang meningkat dan adanya vasokontriksi perifer ringan menimbulkan peningkatan tekanan darah dan refleks bradikardi ringan. Depresi pernafasan pada saat ini dapat diatasi dengan meningkatkan impuls aferen seperti perangsangan pada kulit. Apneu primer berlangsung sekitar 1 – 2 menit (Yu dan Monintja, 1997).

Apneu primer dapat memanjang dan diikuti dengan memburuknya sistem sirkulasi. Hipoksia miokardium dan asidosis akan memperberat bradikardi, vasokontriksi dan hipotensi. Keadaan ini dapat terjadi sampai 5 menit dan kemudian terjadi apneu sekunder. Selama apneu sekunder denyut jantung, tekanan darah dan kadar oksigen dalam darah terus menurun. Bayi tidak bereaksi terhadap rangsangan  dan tidsssak menunjukkan upaya pernafasan secara spontan. Kematian akan terjadi kecuali pernafasan buatan dan pemberian oksigen segera dimulai (Saifuddin, 2002).

 

2.2.4        Manifestasi Klinik

Menurut Surasmi, dkk (2003) tanda dan gejala yang muncul adalah sebagai berikut :

1)      Takhipneu (> 60 kali/menit)

2)      Pernafasan dangkal

3)      Mendengkur

4)      Sianosis

5)      Pucat

6)      Kelelahan

7)      Apneu dan pernafasan tidak teratur

8)      Penurunan suhu tubuh

9)      Retraksi suprasternal dan substernal

10)  Pernafasan cuping hidung

 

2.2.5        Penatalaksanaan

Menurut Suriadi dan Yuliani (2001) tindakan  untuk mengatasi masalah kegawatan pernafasan meliputi :

1)      Mempertahankan ventilasi dan oksigenasi adekwat.

2)      Mempertahankan keseimbangan asam basa.

3)      Mempertahankan suhu lingkungan netral.

4)      Mempertahankan perfusi jaringan adekwat.

5)      Mencegah hipotermia.

6)      Mempertahankan cairan dan elektrolit adekwat.

 

2.2.6   Asuhan Keperawatan

2.2.6.1   Pengkajian

Pengkajian adalah proses pengumpulan data untuk mendapatkan berbagai informasi yang berkaitan dengan masalah yang dialami klien. Pengkajian dilakukan dengan berbagai cara yaitu anamnesa, observasi, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan diagnostik (Surasmi dkk, 2003).

2.2.3.1.1 Riwayat Keperawatan

Menurut Surasmi, dkk (2003) data riwayat keperawatan meliputi riwayat kehamilan sekarang (apakah ibu mengalami hipotensi atau perdarahan), riwayat kelahiran (jenis persalinan, lahir dengan asfiksia atau terpajan hipotermia), riwayat keluarga dan nilai APGAR rendah serta tindakan resusitasi yang dilakukan pada bayi.

 

2.2.3.1.2 Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan fisik akan ditemukan takhipneu (> 60 kali/menit), pernafasan mendengkur, retraksi subkostal/interkostal, pernafasan cuping hidung, sianosis dan pucat, hipotonus, apneu, gerakan tubuh berirama, sulit bernafas dan sentakan dagu. Pada awalnya suara nafas mungkin normal kemudian dengan menurunnya pertukaran udara, nafas menjadi parau dan pernapasan dalam.

Pengkajian fisik pada bayi dan anak dengan kegawatan pernafasan dapat dilihat dari penilaian fungsi respirasi dan penilaian fungsi kardiovaskuler.  Penilaian fungsi respirasi meliputi:

1)     Frekuensi nafas

Takhipneu adalah manifestasi awal distress pernafasan pada bayi. Takhipneu tanpa tanda lain berupa distress pernafasan merupakan usaha kompensasi terhadap terjadinya asidosis metabolik seperti pada syok, diare, dehidrasi, ketoasidosis, diabetikum, keracunan salisilat, dan insufisiensi ginjal kronik. Frekuensi nafas yang sangat lambat dan ireguler sering terjadi pada hipotermi, kelelahan dan depresi SSP yang  merupakan tanda memburuknya keadaan klinik.

2)     Mekanika usaha pernafasan

Meningkatnya usaha nafas ditandai dengan respirasi cuping hidung, retraksi dinding dada, yang sering dijumpai pada obtruksi jalan nafas dan penyakit alveolar. Anggukan kepala ke atas, merintih, stridor dan ekspansi memanjang menandakan terjadi gangguan mekanik usaha pernafasan.

3)      Warna kulit/membran mukosa

Pada keadaan perfusi dan hipoksemia, warna kulit tubuh terlihat berbercak (mottled), tangan dan kaki terlihat kelabu, pucat dan teraba dingin.

Penilaian fungsi kardiovaskuler meliputi:

1)     Frekuensi jantung dan tekanan darah

Adanya sinus tachikardi merupakan respon umum adanya stress, ansietas, nyeri, demam, hiperkapnia, dan atau kelainan fungsi jantung.

2)   Kualitas nadi

Pemeriksaan kualitas nadi sangat penting untuk mengetahui volume dan aliran sirkulasi perifer nadi yang tidak adekwat dan tidak teraba pada satu sisi menandakan berkurangnya aliran darah atau tersumbatnya aliran darah pada daerah tersebut. Perfusi kulit kulit yang memburuk dapat  dilihat dengan adanya bercak, pucat dan sianosis. Pemeriksaan pada pengisian kapiler dapat dilakukan dengan cara:

(1)   Nail Bed Pressure ( tekan pada kuku)

(2)  Blancing Skin Test, caranya yaitu dengan meninggikan sedikit ekstremitas dibandingkan jantung kemudian tekan telapak tangan atau kaki tersebut selama 5 detik, biasanya tampak kepucatan. Selanjutnya tekanan dilepaskan pucat akan menghilang 2-3 detik.

3)  Perfusi pada otak dan respirasi

Gangguan fungsi serebral awalnya adalah gaduh gelisah diselingi agitasi dan letargi. Pada iskemia otak mendadak selain terjadi penurunan kesadaran juga terjadi kelemahan otot, kejang dan dilatasi pupil.

 

2.2.3.1.3 Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan diagnostik meliputi gas darah arteri dengan PaO2 kurang dari 50 mmHg dan PCO2 diatas 60 mmHg, peningkatan kadar kalium darah,  pemeriksaan sinar-X menunjukkan adanya atelektasis, lesitin/spingomielin rasio 2 :1 mengindikasikan bahwa paru sudah matur, pemeriksaan dekstrostik dan fosfatidigliserol meningkat pada usia kehamilan 33 minggu.

 

2.2.6.2    Analisa Data

Data yang terkumpul melalui pengkajian selanjutnya dikelompokkan dan dianalisis untuk merumuskan diagnosa keperawatan. Menurut Suryadi dan Yuliani (2001), diagnosa keperawatan yang mungkin timbul pada bayi dan anak yang mengalami gawat nafas antara lain :

1)      Gangguan pertukaran gas yang berhubungan  dengan imatur paru dan dinding dada atau berkurangnya jumlah cairan surfaktan.

2)      Tidak efektifnya bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan adanya sekret pada jalan nafas dan obstruksi atau pemasangan intubasi trachea yang kurang tepat.

3)      Tidak efektifnya pola nafas yang berhubungan dengan ketidaksamaan nafas bayi dan ventilator, tidak berfungsinya ventilator dan posisi bantuan ventilator yang kurang tepat.

4)      Resiko injuri yang berhubungan dengan ketidakseimbangan asam basa; O2 dan CO2 dan barotrauma (perlukaan dinding mukosa) dari alat bantu nafas.

5)      Resiko perubahan peran orang tua yang berhubungan dengan hospitalisasi, sekunder dari situasi krisis pada bayi.

6)      Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan yang tidak disadari (insensible water loss).

7)       Intake nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketidakmampuan menelan, maturitas gastrik menurun dan kurangnya absorpsi.

 

2.2.6.3  Perencanaan

Menurut Suriadi dan Yuliani (2001) tujuan dari intervensi keperawatan meliputi :

1)     Gangguan pertukaran gas adekwat ditandai dengan nilai analisa gas darah dan saturasi oksigen dalam batas normal.

2)     Kepatenan jalan nafas dapat dipertahankan ditandai dengan bunyi nafas normal dan adanya pergerakan dinding dada.

3)     Support ventilator tepat dan ada usaha bayi untuk bernafas yang ditandai dengan analisa gas darah dalam batas normal.

4)     Bayi tidak mengalami ketidakseimbangan asam dan basa dan  barotrauma.

5)     Orang tua bayi akan menerima keadaan anaknya dan mau melakukan bonding dan mengidentifikasi perubahan peran yang terjadi.

6)     Keseimbangan cairan dan elektrolit dapat dipertahankan.

7)     Kebutuhan intake nutrisi dapat dipertahankan.

 

Adapun implementasi yang dapat dilakukan meliputi :

1)      Mempertahankan pertukaran gas adekwat.

(1)          Identifikasi adanya resiko yang muncul.

(2)          Monitor status pernafasan dan lapor ke dokter bila pernafasan memburuk.

(3)          Monitor analisa gas darah, pulse oxymetry.

(4)          Posisikan bayi dengan tepat.

(5)          Pertahankan suhu lingkungan netral.

(6)          Pemberian oksigen sesuai dengan program.

2)      Meningkatkan kebersihan jalan nafas.

(1)          Kaji dada bayi apakah bunyi nafas bilateral dan adanya ekspansi selama inspirasi

(2)          Atur posisi bayi utuk memudahkan drainase

(3)          Lakukan pengisapan lendir (suction).

(4)          Kaji kepatenan jalan nafas setiap jam.

(5)          Kaji posisi ketepatan alat ventilator setiap jam.

(6)          Auskultasi kedua lapang paru.

3)      Meningkatkan pola nafas efektif.

(1)          Monitor serial analisa gas darah sesuai program.

(2)          Gunakan alat Bantu nafas sesuai program.

(3)          Pantau ventilator setiap jam

(4)          Berikan lingkungan yang kondusif supaya bayi dapat tidur, gunakan sedatif bila perlu sesuai program.

4)      Mencegah injuri berhubungan dengan ketidakseimbangan asam – basa; O2 dan CO2 dan barotrauma.

(1)          Evaluasi gas darah untuk melihat fungsi abnormal pernafasan.

(2)          Monitor pulse oksimetri

(3)          Monitor adanya komplikasi

(4)          Pantau dan pertahankan ketepatan posisi alat bantu nafas atau ventilator.

5)      Meningkatkan bonding orang tua dan bayi.

(1)          Jelaskan semua alat (monitor, ETT, ventilator) pada orang tua.

(2)          Anjurkan orang tua untuk selalu mengunjungi bayi.

(3)          Jika tidak menggunakan oksigen, ajarkan orang tua untuk menyentuh bayi, bercakap dan belaian kasih sayang.

(4)          Ajarkan cara orang tua untuk berpartisipasi dalam perawatan bayi.

(5)          Instruksikan pada ibu untuk memberikan ASI dan ajarkan cara merangsang pengeluaran ASI.

6)      Mencegah kekurangan volume cairan.

(1)          Pertahankan cairan infus 60 – 100 ml/kg/hari.

(2)          Peningkatan pemberian cairan dapat dilihat dari hasil output urine, dan jumlah makanan enteral yang didapat.

(3)          Gunakan infus pompa agar jumlah cairan tubuh yang normal dapat dipertahankan.

(4)          Moitor intake dan output dan catat secara ketat.

(5)          Monitor output urine pada popok.

(6)          Kaji elektrolit; sodium dan potasium.

(7)          Monitor jumlah infus yang masuk.

7)      Memenuhi kebutuhan nutrisi.

(1)          Pasang NGT untuk pemberian minum.

(2)          Evaluasi abdomen dengan cara auskultasi.

(3)          Pastikan bahwa selang NGT masuk tepat pada lambung.

(4)          Berikan makanan atau minuman melalui NGT secara bertahap.

(5)          Tinggikan kepala anak sedikit pada saat akan minum.

(6)          Pemberian makanan atau minuman secara perlahan-lahan.

(7)          Pantau sisa makanan atau minuman sebelum pemberian makanan.

(8)          Tempatkan bayi dengan posisi miring ke kanan setelah pemberian minum selama satu jam.

 

 

2.2.6.4    Evaluasi dan Perencanaan Pulang

1)     Berikan pengajaran perawatan bayi pada orang tua dengan simulasi. Kenalkan pada orang tua utuk mengidentifikasi tanda dan gejala distress pernafasan.

2)     Ajarkan pada orang tua bagaimana cara melakukan resusitasi jantung paru (RJP) dan disimulasikan bila perlu untuk perawatan dirumah.

3)     Jika bayi menggunakan monitor di rumah, ajarkan pada orang tua bagaimana mengatasi bila ada alarm.

4)     Jelaskan kepada orang tua pentingnya sentuhan dan suara-suara nada sayang didengar oleh bayi.

5)     Tekankan pentingnya kontrol ulang dan deteksi dini bila ada kelainan.

 

2.3            Resusitasi

2.3.1         Pengertian

Resusitasi adalah tindakan untuk menghidupkan kembali atau memulihkan kembali kesadaran seseorang yang tampaknya mati sebagai akibat berhentinya fungsi jantung dan paru, yang berorientasi pada otak (Tjokronegoro, 1998).

Sedangkan menurut Rilantono, dkk (1999) resusitasi mengandung arti harfiah “menghidupkan kembali”, yaitu dimaksudkan usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah suatu episode henti jantung berlanjut menjadi kematian biologis. Resusitasi jantung paru terdiri atas dua komponen utama yakni: bantuan hidup dasar (BHD) dan bantuan hidup lanjut (BHL). Selanjutnya adalah perawatan pasca resusitasi.

Bantuan hidup dasar adalah usaha yang dilakukan untuk menjaga jalan nafas (Airway) tetap terbuka, menunjang pernafasan dan sirkulasi darah. Usaha ini harus dimulai dengan mengenali secara tepat keadaan henti jantung atau henti nafas dan segera memberikan bantuan ventilasi dan sirkulasi. Usaha BHD ini bertujuan dengan cepat mempertahankan pasokan oksigen ke otak, jantung dan alat-alat vital lainnya sambil menunggu pengobatan lanjutan (bantuan hidup lanjut).

Resusitasi dilakukan pada keadaan henti nafas, misalnya pada korban tenggelam, stroke, obstruksi benda asing di jalan nafas, inhalasi gas, keracunan obat, tersedak, tersengat listrik, koma dan lain-lain. Sedangkan henti jantung terjadi karena fibrilasi ventrikel, takhikardi ventrikel, asistol dan disosiasi elektromekanikal.

 

2.3.2        Tujuan

Tindakan resusitasi merupakan tindakan yang harus dilakukan dengan segera sebagai upaya untuk menyelamatkan hidup (Hudak dan Gallo, 1997). Tindakan resusitasi ini dimulai dengan penilaian secara tepat keadaan dan kesadaran penderita kemudian dilanjutkan dengan pemberian bantuan hidup dasar (basic life support) yang bertujuan untuk oksigenasi darurat. (AHA, 2003).

Tujuan tahap II (advance life support) adalah untuk memulai kembali sirkulasi yang spontan, sedangkan tujuan tahap III (prolonged life support) adalah pengelolaan intensif pasca resusitasi. Hasil akhir dari tindakan resusitasi akan sangat tergantung pada kecepatan dan ketepatan penolong pada tahap I dalam memberikan bantuan hidup dasar.

Tujuan utama resusitasi kardiopulmoner yaitu melindungi otak secara manual dari kekurangan oksigen, lebih baik terjadi sirkulasi walaupun dengan darah hitam daripada tidak sama sekali. Sirkulasi untuk menjamin oksigenasi yang adekwat sangat diperlukan dengan segera karena sel-sel otak menjadi lumpuh apabila oksigen ke otak terhenti selama 8 – 20 detik dan akan mati apabila oksigen terhenti selama 3 – 5 menit (Tjokronegoro, 1998). Kerusakan sel-sel otak akan menimbulkan dampak negatif berupa kecacatan atau bahkan kematian.

 

2.3.3        Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Resusitasi

Hipoksia yang disebabkan kegawatan pernafasan akan mengaktifkan metabolisme anaerob. Apabila  keadaan hipoksia semakin berat dan lama, metabolisme anaerob akan menghasilkan asam laktat. Dengan memburuknya keadaan asidosis dan penurunan aliran darah ke otak maka akan terjadi kerusakan otak dan organ lain (Yu dan Monintja, 1997).  Selanjutnya dapat terjadi depresi pernafasan yang dimanifestasikan dengan apneu yang memanjang bahkan dapat menyebabkan kematian.

Depresi nafas yang dimanifestasikan dengan apneu yang memanjang hanya dapat diatasi dengan pemberian oksigen dengan tekanan positif, massase jantung eksternal dan koreksi keadaan asidosis. Hanya setelah oksigenasi dan perfusi jaringan diperbaiki maka aktivitas respirasi dimulai (Yu dan Monintja, 1997).

Pendapat tersebut menekankan pentingnya tindakan resusitasi dengan segera. Makin lambat dimulainya tindakan resusitasi yang efektif maka akan makin lambat pula timbulnya usaha nafas dan makin tinggi pula resiko kematian dan kecacatan. Hal ini diperkuat dengan pendapat Nelson (1999) yang menyatakan bahwa peluang keberhasilan tata laksana penderita dengan henti nafas menitikberatkan pada pentingnya kemampuan tata laksana karena peningkatan hasil akhir pasca henti pernafasan dihubungkan dengan kecepatan dilakukannya resusitasi jantung paru.

Resusitasi akan berhasil apabila dilakukan segera setelah kejadian henti jantung atau henti nafas pada saat kerusakan otak yang menetap (irreversible) belum terjadi. Kerusakan otak yang menetap akan terjadi apabila kekurangan O2 dalam darah tidak segera dikoreksi atau apabila sirkulasi terhenti lebih dari 3 – 5 menit (Tjokronegoro, 1998)

Keberhasilan resusitasi tergantung kepada :

1)     Keadaan miokardium

2)     Penyebab terjadinya henti jantung

3)     Kecepatan dan ketepatan tindakan

4)     Mempertahankan penderita di perjalanan ke rumah sakit

5)     Perawatan khusus di rumah sakit

6)     Umur (tetapi tidak terlalu menentukan)

 

2.3.4        Tatalaksana Tindakan Resusitasi

2.3.4.1  Penilaian Bayi

Penilaian kegawatan pada bayi dan anak yang mengalami kegawatan tidak lebih dari 30 detik yang meliputi:

1)     Airway

Apakah ada obstruksi yang menghalangi jalan nafas, apakah memerlukan alat bantu jalan nafas, apakah ada cedera pada leher.

2)     Breathing

Frekuensi nafas, gerak nafas, aliran udara pernafasan, warna kulit/mukosa.

3)     Circulation

Frekuensi, tekanan darah, denyut sentral, perfusi kulit (capillary refilling time, suhu, mottling), perfusi serebral, reaksi kesadaran (tonus otot, mengenal, ukuran pupil, postur).

 

2.3.4.2  Posisi Bayi

Untuk dapat dilakukan resusitasi jantung paru, penderita harus dibuat dalam posisi terlentang dan diusahakan satu level atau datar. Posisi untuk bayi baru lahir (neonatus) leher sedikit ekstensi, atau dengan meletakkan handuk atau selimut di bawah bahu bayi sehingga bahu terangkat 2-3 cm (gambar 2.1).

 

 

 

 

 

Gambar 2.1

Posisi penderita pada saat dilakukan resusitasi

2.3.4.3  Posisi Penolong

Penolong sebaiknya berdiri disamping penderita dalam posisi dimana ia dapat melakukan gerakan bantuan nafas dan bantuan sirkulasi tanpa harus merubah posisi tubuh (gambar 2.2).

 

 

 

 

 

Gambar 2.2

Posisi penolong pada saat melakukan resusitasi

 

2.3.4.4 Teknik Resusitasi

2.3.4.4.1   Airway :  membuka jalan nafas

1)     Tentukan derajat kesadaran dan kesulitan nafas.

2)     Buka jalan nafas dengan cara tengadahkan kepala dan topang dagu (head tilt and chin lift) bila tidak terdapat cedera kepala atau leher dengan cara satu tangan pada dahi, tekan ke belakang. Jari tangan lain pada rahang bawah, dorong keluar dan ke atas (gambar 2.3). Gerakan ini akan mengangkat pangkal lidah ke atas sehingga jalan nafas terbuka. Lidah yang jatuh ke belakang sering menjadi penyebab obstruksi jalan nafas pada penderita yang tidak sadar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.3

Head Tilt and Chin Lift

 

3)     Gerakan mendorong rahang ke bawah ke depan (jaw thrust) juga dapat membuka jalan nafas bila diketahui terdapat cedera leher atau kepala.

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.4

Chest Thrust

 

4)     Membersihkan benda asing dapat dilakukan dengan :

(1)    Finger sweep: yaitu dengan menggunakan jari telunjuk dan jari tengah penolong untuk membebaskan sumbatan jalan nafas yang diakibatkan oleh sisa makanan.

(2)    Heimlich manuver

(3)    Abdominal/chest thrust (Gambar 2.4)

(4)    Suction (pengisapan): yaitu membersihkan jalan nafas dilakukan pengisapan lendir/cairan dengan menggunakan suction. Pada bayi dimulai dengan mengisap mulut terlebih dahulu kemudian bagian hidung supaya tidak terjadi aspirasi dan dilakukan tidak lebih dari 5 detik.

5)     Setelah jalan nafas terbuka harus dinilai/evakuasi pernafasan  dengan melihat, mendengar dan merasakan adanya hembusan nafas.

 

2.3.4.4.2   B: Breathing

1)     Dekatkan pipi penolong pada hidung dan mulut penderita, lihat dada penderita.

2)     Lihat, dengar dan rasakan pernafasan ( 5 – 10 detik).

3)    Jika tidak ada nafas lakukan bantuan nafas buatan/Ventilasi Tekanan Positif (VTP) .

4)     Pada Neonatus dan bayi < 1 tahun : pasang sungkup di wajah, menutupi pipi, mulut dan hidung dan selanjutnya rapatkan.

5)     Pada anak > 1 tahun pasang sungkup yang menutupi mulut, sedangkan hidung dapat dijepit dengan jari telunjuk dan ibu jari penolong.

6)     Lakukan tiupan nafas dengan mulut atau balon resusitasi. Berikan nafas buatan untuk neonatus 30-60 kali/menit, dan 20 kali untuk bayi dan anak yang kurang dari 8 tahun.

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.5

Breathing

 

7)     Evaluasi pemberian nafas buatan dengan cara mengamati gerakan turun naik dada. Bila dada naik maka kemungkinan tekanan adekwat. Bila dada tidak naik cek kembali posisi  anak, perlekatan sungkup, tekanan yang diberikan, periksa jalan nafas apakah ada mucus atau tidak bila ada dapat dilakukan penghisapan dengan suction.

8)     Setelah dilakukan ventilasi selama satu menit, evaluasi apakah bayi atau anak dapat bernafas secara spontan,  Lakukan penilaian pulsasi tidak boleh lebih dari 10 detik. Jika pulsasi ada dan penderita tidak bernafas, maka hanya dilakukan bantuan nafas sampai penderita bernafas spontan.

 

2.3.4.4.3   C: Circulation

1)      Jika pulsasi tidak ada atau terjadi bradikardi maka harus dilakukan kompresi dada sehingga memberikan bantuan sirkulasi disertai bantuan nafas secara ritmik dan terkoordinasi.  Pada neonatus pemberian kompresi jantung diberikan bila didapat pulsasi bayi < 60 kali/menit.

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.6

Kompresi Dada

2)      Posisi tempat kompresi :

(1)    Pada neonatus: 1 jari dibawah linea interpapilaris.

(2)    Pada bayi: Sternum bagian bawah.

(3)    Pada anak: 2 jari diatas prosesus xipoideus.

3)      Tangan yang melakukan kompresi :

(1)    Neonatus : menggunakan 2 jari tangan atau 2 ibu jari.

(2)  Bayi : dengan menggunakan 2 jari.

 

2.4      Pengetahuan Perawat Tentang Resusitasi Jantung Paru Pada Neonatus

Resusitasi pada neonatus yang mengalami gawat nafas merupakan tindakan  kritis yang harus dilakukan oleh perawat yang kompeten. Perawat harus dapat membuat keputusan yang tepat pada saat kritis. Kemampuan ini memerlukan penguasaan pengetahuan dan keterampilan keperawatan yang unik pada situasi kritis dan mampu menerapkannya untuk memenuhi kebutuhan pasien kritis (Hudak dan Gallo, 1997).

Pengetahuan perawat tentang resusitasi merupakan modal yang sangat penting untuk pelaksanaan tindakan resusitasi pada situasi kritis. Pengetahuan ini menentukan keberhasilan tindakan resusitasi. Pengetahuan tentang resusitasi dapat didapat melalui pendidikan, pelatihan atau pengalaman selama bekerja.

Pengetahuan yang perlu dimiliki perawat tentang resusitasi meliputi :

1)     Konsep kegawatan pernafasan meliputi pengertian, etiologi, patofisiologi dan dampak terhadap sistem tubuh, manifestasi klinik dan penatalaksanaan medis.

2)     Konsep asuhan keperawatan meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, evaluasi dan perencanaan pulang.

3)     Konsep resusitasi meliputi pengertian, tujuan dan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan resusitasi serta pelaksanaan resusitasi yang meliputi penilaian kondisi neonatus, pengaturan posisi neonatus dan penolong dan teknik resusitasi yang terdiri dari pengelolaan jalan nafas (airway),  bantuan ventilasi  (breathing) dan  mempertahankan sirkulasi darah dengan cara pemijatan dada (circulation).

 

BAB IV

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

 

            Proses pengumpulan data dilaksanakan di Ruang NICU, Ruang Perinatologi dan Ruang Anak RSUD Gunung Jati Cirebon terhadap 35 orang responden pada tanggal 2 – 12 Desember 2005 dengan menggunakan instrumen penelitian yang telah ditetapkan dalam penelitian ini.

Hasil penelitian disajikan dalam bentuk diagram dan tabel disertai dengan interpretasinya, sedangkan pembahasan disajikan dalam bentuk narasi.

 

4.1.      Karakteritik Responden

4.1.1.      Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan

 

Diagram 4.1 

Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan

56

Berdasarkan hasil pengumpulan data yang dilakukan  terhadap 35 responden di Ruang NICU, Ruang Perinatologi dan Ruang Anak didapatkan data bahwa 8 orang responden atau 22 % mempunyai latar belakang pendidikan  SPK (sekolah perawat kesehatan) atau setingkat sekolah menengah dan 22 orang responden berpendidikan D3 Keperawatan atau sekitar 78 %. Responden yang pernah mengikuti pelatihan yang berhubungan dengan pelaksanaan resusitasi sebanyak 5 orang atau 14 %.

 

4.1.2.      Karakteristik Responden Berdasarkan Pengalaman Kerja

 

Diagram 4.2

Karakteristik Responden Berdasarkan Pengalaman Kerja

 

Diagram diatas menunjukkan bahwa 17 % responden atau 6 orang mempunyai pengalaman kerja 0 – 2 tahun, 26 % responden atau 9 orang mempunyai pengalaman kerja 2 – 4 tahun, 11 % responden atau 4  orang mempunyai pengalaman kerja 4 – 6 tahun dan 46  % responden atau 16 orang mempunyai pengalaman kerja lebih dari 6 tahun.

 

4.2   Hasil Penelitian

4.2.1 Pengetahuan Perawat Tentang Kegawatan Nafas dan Tindakan Resusitasi Pada Neonatus yang Mengalami  Kegawatan Pernafasan Di Ruang NICU, Ruang Perinatologi Dan Ruang Anak RSUD Gunung Jati Cirebon Secara Umum

 

Diagram 4.3

Pengetahuan Perawat Tentang Kegawatan Nafas dan Tindakan Resusitasi di Ruang NICU, Ruang Perinatologi dan Ruang Anak

 RSUD Gunung Jati Cirebon

Berdasarkan hasil penelitian mengenai   pengetahuan perawat tentang kegawatan nafas da tindaka resusitasi pada neonatus yang mengalami kegawatan pernafasan di Ruang NICU, Ruang Perinatologi dan Ruang Anak RSUD Gunung Jati Cirebon didapat data bahwa secara umum lebih dari setengah responden mempunyai pengetahuan dengan kategori baik  yaitu 14 orang atau 40 %, 16 orang mempunyai pengetahuan dengan kategori cukup atau 46 %, dan 5 orang mempunyai pengetahuan dengan kategori kurang atau 14 %.

Berdasarkan latar belakang pendidikan, pengetahuan perawat tentang resusitasi dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

 

Tabel 4.1

Pengetahuan Perawat Tentang Resusitasi Pada Neonatus Yang Mengalami Kegawatan Pernafasan  Berdasarkan Latar Belakang Pendidikan

 

No.

 

Pendidikan

 

Kategori

 

Jumlah

 

Prosentase

1.

SPK Baik

2

5,75 %

Cukup

3

8,5 %

Kurang

3

8,5 %

2.

D3 Keperawatan Baik

12

34,28 %

Cukup

13

37,14 %

Kurang

2

5,75 %

   

Jumlah

 

35

 

100 %

Kemudian berdasarkan pengalaman kerja, pengetahuan perawat tentang resusitasi dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

 

Tabel 4.2

Pengetahuan Perawat TentangKegawatan Nafas dan Resusitasi Pada Neonatus Yang Mengalami Kegawatan Pernafasan  Berdasarkan Pengalaman Kerja

 

No.

 

Pendidikan

 

Kategori

 

Jumlah

 

Prosentase

1.

0 – 2 tahun

Baik

0

5,71%

Cukup

6

17,14%

Kurang

0

0%

2.

2 – 4 tahun

Baik

3

8,57%

Cukup

3

8,57%

Kurang

3

8,57%

3.

4 – 6 tahun

Baik

2

5,71%

Cukup

2

5,71%

Kurang

0

0%

4.

> 6 tahun

Baik

9

25,71%

Cukup

5

7,04%

Kurang

2

5,71%

     

Jumlah

 

35

 

100 %

 

 

 

4.2.1.1    Pengetahuan Perawat Tentang Konsep Dasar Kegawatan Pernafasan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengetahuan perawat tentang konsep dasar kegawatan pernafasan pada neonatus yang mengalami kegawatan pernafasan di Ruang NICU, Ruang Perinatologi dan Ruang Anak secara umum didapatkan data bahwa sebagian besar responden mempunyai pengetahuan dengan kategori baik yaitu sebanyak 23 orang atau 65%, sedangkan  yang mempunyai pengetahuan dengan kategori cukup sebanyak 10 orang atau 29% dan yang mempunyai kategori kurang  sebanyak 2 orang atau 6%.

 

Diagram 4.4

Pengetahuan Perawat Ruang NICU, Ruang Perinatologi

Dan Ruang Anak RSUD Gunung Jati Cirebon Tentang

Konsep Dasar Kegawatan Pernafasan

4.2.1.2 Pengetahuan Perawat Tentang Asuhan Keperawatan Asuhan Keperawatan  Pada Neonatus Dengan Kegawatan Pernafasan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai pegetahuan perawat tentang asuhan keperawatan pada neonatus yang mengalami kegawatan pernafasan di Ruang NICU, Ruang Perinatologi dan Ruang Anak secara umum didapatkan gambaran bahwa sebagian besar responden mempunyai pengetahuan dengan kategori baik yaitu sebanyak 27 orang atau 78%, sedangkan  yang mempunyai pengetahuan dengan kategori cukup adalah sebanyak 4 orang atau 11%. Sedangkan responden yang mempunyai pengetahuan dengan kategori kurang adalah sebanyak 4 orang atau 11% atau sebanding dengan responden yang memiliki pengetahuan dengan kategori cukup.

 

Diagram 4.5

Pengetahuan Perawat Ruang NICU,  Ruang Perinatologi

 Dan Ruang Anak RSUD Gunung Jati Cirebon Tentang

Asuhan Keperawatan Pada Neonatus Yang Mengalami Kegawatan Pernafasan

4.2.1.3        Pengetahuan Perawat Tentang Tindakan Resusitasi Pada Neonatus Dengan Kegawatan Pernafasan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengetahuan perawat tentang resusitasi pada neonatus yang mengalami kegawatan pernafasan di Ruang NICU, Ruang Perinatologi dan Ruang Anak secara umum didapatkan gambaran bahwa responden yang mempunyai pengetahuan dengan kategori baik yaitu 11 orang atau 31%, sedangkan  yang mempunyai pengetahuan dengan kategori cukup yaitu 5 orang atau 14% dan yang mempunyai kategori kurang yaitu 19 orang atau 55%.

Diagram 4.6

Pengetahuan Perawat Ruang NICU,  Ruang Perinatologi Dan Ruang Anak RSUD Gunung Jati Cirebon Tentang Tindakan Resusitasi Pada Neonatus yang Mengalami Kegawatan Pernafasan

 

4.3   Pembahasan

            Penelitian tentang pengetahuan perawat tentang kegawatan nafas dan tindakan resusitasi pada neonatus yang mengalami kegawatan pernafasan dilakukan dengan melakukan pengumpulan data melalui metode angket terhadap 35 orang responden dari Ruang NICU, Ruang Perinatologi dan Ruang Anak RSUD Gunung Jati Cirebon meliputi 3 sub variabel yaitu pengetahuan perawat tentang konsep dasar kegawatan pernafasan, asuhan keperawatan pada neonatus yang mengalami kegawatan pernafasan dan tindakan resusitasi.

            Hasil penelitian menunjukkan bahwa  pengetahuan perawat di Ruang NICU, Ruang Perinatologi dan Ruang Anak RSUD Gunung Jati Cirebon tentang kegawatan nafas dan tindakan resusitasi pada neonatus yang mengalami kegawatan pernafasan sebagian besar termasuk dalam kategori  cukup yaitu sebesar 46% dari 35 orang responden atau 16 orang responden. Apabila skor akhir dijumlahkan maka didapat nilai rata-rata 73,6 atau termasuk dalam kategori cukup. Hal ini mengandung arti bahwa sebagian besar perawat mempunyai pegetahuan yang cukup tentang tata laksana pada neonatus dengan kegawatan pernafasan.

Pengetahuan perawat tentang resusitasi pada neonatus dengan kegawatan pernafasan merupakan suatu hal yang penting dimana pengetahuan merupakan dasar untuk pembentukan sikap perawat dalam melaksanakan resusitasi dengan segera dan keterampilan melaksanakan resusitasi dengan benar karena menurut Nelson (1999) peluang keberhasilan tata laksana neonatus dengan henti nafas sangat tergantung kepada kemampuan tata laksana dan kecepatan dilakukannya tindakan resusitasi.

Tindakan resusitasi harus dilakukan oleh perawat yang kompeten (Hudak dan Gallo, 1997) agar dapat mencapai tujuan  yang diharapkan yaitu mencegah kecacatan dan kematian. Resusitasi seringkali dilakukan pada situasi kritis dimana pasien dihadapkan pada dua kemungkinan yaitu hidup atau mati dan perawat dituntut untuk segera melakukan tindakan yang cepat dan tepat, akibatnya perawat seringkali dihadapkan pada situasi penuh stress (ketegangan). Oleh karena itu perawat harus mempunyai kompetensi yang memadai.

Kompetensi dalam melakukan tindakan resusitasi merupakan kemampuan perawat menghadapi situasi stress, menganalisa situasi kritis dan mengambil keputusan yang tepat. Kompetensi ini meliputi kompetensi kognitif, afektif dan psikomotor. Kompetensi kognitif atau pengetahuan merupakan merupakan  dasar pembentukan perilaku seseorang (Notoatmodjo, 2003). Terbentuknya suatu kompetensi psikomotor atau keterampilan dimulai dari domain kognitif, dalam arti seseorang harus terlebih dahulu tahu sebelum melakukan suatu tindakan.

Pembentukan kompetensi kognitif terjadi melalui proses belajar, baik secara formal maupun nonformal. Pengalaman dalam menangani berbagai kasus neonatus dengan kegawatan pernafasan dapat menjadi sumber belajar bagi perawat. Dalam penelitian ini terungkap bahwa sebagian besar perawat yang mempunyai pengalaman kerja yang cukup mempunyai tingkat pengetahuan yang baik.

            Pengetahuan tentang berbagai aspek dalam melaksanakan tindakan resusitasi merupakan modal penting bagi perawat agar dapat melaksanakan resusitasi dengan tepat sehingga mencapai tujuan yang diharapkan yaitu mencegah kecacatan dan kematian.  Domain kognitif yang harus dikuasai  meliputi pengetahuan tentang konsep dasar kegawatan pernafasan, asuhan keperawatan pada neonatus yang mengalami kegawatan pernafasan dan tata laksana resusitasi itu sendiri.

Kemampuan perawat dalam melaksanakan tindakan resusitasi dengan segera dan  benar  akan berdampak pada keberhasilan tata laksana neonatus dengan kegawatan pernafasan berupa penurunan angka kematian neoatus yang dirawat dengan kondisi kritis.  Angka kematian ini perlu ditekan serendah mungkin mengingat sebagian besar pasien yang masuk ke RSUD Gunung Jati masuk dengan kondisi kritis dengan prognosis yang buruk.  Rendahnya angka kematian akan meningkatkan citra rumah sakit sebagai rumah sakit rujukan.

 

4.3.1        Pengetahuan Perawat Tentang Konsep Dasar Kegawatan Pernafasan

Pengetahuan perawat tentang konsep dasar kegawatan pernafasan merupakan salah satu bagian yang penting dalam aspek pengetahuan perawat tentang resusitasi. Pengetahuan tentang kegawatan pernafasan membantu perawat mengenal penyebab, tanda-tanda klinis yang muncul, patofisiologi dan dampaknya terhadap tubuh sehingga perawat mempunyai gambaran kondisi tubuh neonatus yang mengalami kegawatan pernafasan. Dengan demikian perawat diharapkan dapat segera melakukan tindakan yang tepat karena mengetahui dampak kegawatan pernafasan terhadap tubuh bayi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden yang terdiri dari perawat di Ruang NICU, Ruang Perinatologi dan Ruang Anak RSUD Gunung Jati Cirebon mempunyai pengetahuan yang baik tentang konsep dasar kegawatan pernafasan, yaitu 23 orang atau sekitar 65% dari 35 responden. Sangat sedikit responden yang mempunyai pengetahuan tentang konsep dasar kegawatan pernafasan dengan kategori  kurang, yaitu 2 orang atau hanya 6%. Sementara yang mempunyai pengetahuan tentang konsep dasar kegawatan pernafasan dengan kategori cukup adalah sebagian kecil atau sekitar 29%.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar responden mempunyai pengetahuan yang baik tentang konsep dasar kegawatan pernafasan.  Ini dapat disebabkan karena para perawat hampir setiap hari melakukan asuhan keperawatan pada bayi yang mengalami kegawatan pernafasan sehingga banyak pengetahuan baru yang didapat melalui pengalaman langsung dalam melaksanakan asuhan keperawatan, baik dari diskusi dengan sesama perawat ataupun dengan dokter.

Manfaat dari dikuasainya pengetahuan tentang konsep dasar kegawatan pernafasan adalah perawat mengetahui kondisi neonatus yang mengalami kegawatan pernafasan sehingga mempuyai gambaran tentang bagaimana tindakan yang harus segera dilakukan agar kondisi kegawatan pernafasan tidak menimbulkan dampak negatif seperti kecacatan atau bahkan kematian.

 

4.3.2        Pengetahuan Perawat Tentang Asuhan Keperawatan Pada Neonatus Yang Mengalami Kegawatan Pernafasan

Pengetahuan perawat tentang asuhan keperawatan pada neonatus yang mengalami kegawatan  pernafasan penting untuk dikuasai agar perawat dapat membantu bayi untuk mempertahankan kondisi tubuhnya atau bahkan pulih dari keadaan kritis. Asuhan keperawatan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar neonatus terutama mempertahankan oksigenasi yang adekwat. Asuhan keperawatan dilaksanakan berdasarkan masalah-masalah yang teridentifikasi melalui pengkajian. Selanjutnya perawat dapat merencanakan tindakan keperawatan yang tepat untuk mengatasi kondisi bayi.

Pengetahuan perawat tentang asuhan keperawatan pada neonatus yang mengalami kegawatan pernafasan meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, evaluasi dan perencanaan pulang.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar respoden mempunyai pengetahuan tentang asuhan keperawatan pada neonatus yang mengalami kegawatan pernafasan dengan kategori baik, yaitu 78% atau 27 orang dari 35 responden dan hanya sebagian kecil responden yang mempunyai pengetahuan dengan kategori cukup dan kurang yaitu masing-masing 4 orang atau hanya sekitar 11%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar perawat mempunyai pengetahuan yang baik tentang asuhan keperawatan pada neonatus yang mengalami kegawatan pernafasan. Maknanya adalah sebagian besar perawat mengetahui masalah-masalah keperawatan yang mungkin timbul pada bayi yang mengalami kegawatan pernafasan dan mengetahui tindakan keperawatan yang dapat dilakukan.

Pengetahuan tentang asuhan keperawatan pada neonatus dengan kegawatan pernafasan penting untuk dikuasai karena tugas perawat adalah memberikan bantuan kepada pasien untuk memenuhi kebutuhan dasarnya secara etis dan logis sesuai dengan permasalahan yang dialami pasien melalui asuhan keperawatan sehingga diharapkan perawat dapat memberikan asuhan keperawatan secara efektif dan efisien dalam mencapai tujuan asuhan keperawatan pada neonatus yang mengalami kegawatan pernafasan. Dengan pengetahuan yang baik ini maka diharapkan dapat meningkatkan kualitas asuhan keperawatan sehingga tujuan asuhan keperawatan tercapai secara efektif dan berdampak kepada keberhasilan penanganan neonatus dengan kegawatan pernafasan.

4.3.3        Pengetahuan Perawat Tentang Resusitasi Pada Neonatus yang Mengalami Kegawatan Penafasan

Berdasarkan hasil penelitian hanya sebagian responden yang mempunyai pengetahuan tentang resusitasi pada neonatus yang mengalami kegawatan pernafasan dengan kategori baik 31% atau sebanyak 11 orang dari 35 responden dan  responden yang mempunyai pengetahuan dengan kategori cukup yaitu 14 % atau sebanyak  5 orang dan 55 % responden mempunyai pengetahuan dengan kategori kurang atau sebanyak 19 orang.

Apabila dilihat dalam bentuk diagram maka sebagian besar responden mempunyai pengetahuan tentang resusitasi dengan kategori kurang. Pengetahuan perawat tentang resusitasi ini terdiri dari   konsep resusitasi meliputi pengertian, tujuan dan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan resusitasi dan pelaksanaan resusitasi yang meliputi penilaian kondisi neonatus, pengaturan posisi neonatus dan penolong dan teknik resusitasi yang terdiri dari pengelolaan jalan nafas (airway),  bantuan ventilasi  (breathing) dan  mempertahankan sirkulasi darah dengan cara pemijatan dada (circulation).

            Dengan pengetahuan perawat yang sebagian besar termasuk ke dalam kategori kurang  maka ini akan mempengaruhi peluang keberhasilan penanganan bayi dengan kegawatan pernafasan berupa terjadinya kegagalan. Kegagalan ini berdampak negatif  berupa tingginya angka kematian. Sementara neonatus yang masuk ke RSUD Gunung Jati Cirebon sebagian besar datang dengan kondisi kritis dan prognosa yang buruk sehingga berpotesi mengalami kegawatan pernafasan. Hal ini terlihat dari data pasien yang masuk pada bulan Desember 2004 – Februari 2005  yang menunjukkan bahwa sebagian besar pasien masuk mengalami masalah dengan sistem pernafasan.

Gangguan pernafasan pada neonatus akan berdampak negatif terhadap tubuh dan dapat menimbulkan kecacatan atau bahkan kematian. Sementara menurut Nelson (1999) peluang keberhasilan penanganan neonatus dengan kegawatan pernafasan sangat tergantung kepada kemampuan tata laksana dan dilakukannya tindakan resusitasi dengan segera. Kompetensi ini dapat terbentuk dengan terlebih dahulu didasari dengan pengetahuan yang baik.

Pengetahuan ini merupakan kompetensi kognitif yang menjadi dasar bagi pembentukan kompetensi afektif dan psikomotor (Notoatmodjo, 2003). Ketiga aspek tadi merupakan elemen pembentuk kompetensi perawat dalam melaksanakan tindakan resusitasi.

Banyaknya perawat yang mempunyai pengetahuan tentang resusitasi dengan kategori kurang mungkin disebabkan karena hanya sebagian kecil perawat yang pernah mengikuti pelatihan yang berhubungan dengan tindakan resusitasi yaitu 14 % atau hanya sebanyak 5 orang dari 35 responden.

 

 

4.3.4    Keterbatasan Penelitian

Penelitian mengenai Pengetahuan Perawat tentang Kegawatan Pernafasan dan Tindakan Resusitasi pada Neonatus yang Mengalami Gawat Nafas di Rung NICU, Ruang Perinatologi dan Ruang Anak RSUD Gunung Jati Cirebon, memiliki beberapa keterbatasan penelitian :

1.      Penelitian ini merupakan pengalaman pertama bagi peneliti, kurangnya pengalaman dan ilmu penunjang yang dimiliki guna melaksanakan penelitian yang baik menjadi hambatan dalam pelaksanaan penelitian ini.

2.      Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner tertutup sehingga pilihan-pilihan jawaban responden menjadi terbatas. Jawaban yang diberikan oleh responden juga bisa saja tidak sesuai dengan keadaan responden.

3.      Pada penelitian ini menggunakan instrumen yang merupakan hasil studi kepustakaan dari berbagai sumber sehingga diduga dapat menimbulkan kelemahan dan kekurangan dalam pengumpulan data dan lain sebagainya. Peneliti melakukan uji validitas dan reliabilitas dengan hasil cukup valid dan reliabel tetapi tidak melakukan validitas content sehingga mempunyai kelemahan dalam isi.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

 

 

5.1   Kesimpulan

            Dari hasil penelitian    tentang “Pengetahuan Perawat tentang Kegawatan Nafas dan tindakan Resusitasi pada Neonatus yang Mengalami Kegawatan Pernafasan di Ruang NICU, Ruang Perinatologi dan Ruang Anak RSUD Gunung Jati Cirebon” yang dilaksanakan pada tanggal 2 sampai 12 Desember 2005 dapat disimpulkan bahwa:

1.      Pengetahuan perawat tentang konsep kegawatan pernafasan pada neonatus yang mengalami kegawatan pernafasan sebagian besar (65%) adalah baik.

2.      Pengetahuan perawat tentang konsep asuhan keperawatan pada neonatus yang mengalami kegawatan pernafasan sebagian besar (78%) adalah baik.

3.      Pengetahuan perawat tentang konsep, tujuan dan  tindakan resusitasi pada neonatus dengan kegawatan pernafasan  sebagian besar (55%) adalah kurang.

73

Secara umum pengetahuan perawat tentang konsep kegawatan pernafasan dan konsep asuhan keperawatan pada neonatus dengan kegawatan pernafasan di Ruang NICU, Ruang Perinatologi dan Ruang Anak adalah cukup, hal ini dilatarbelakangi oleh   tingkat pendidikan yang sebagian besar adalah DIII keperawatan dan pengalaman bekerja sebagian besar perawat yang relatif lama.

Sedangkan pengetahuan perawat tentang konsep resusitasi dan tindakan resusitasi sebagian besar kurang, hal ini dapat disebabkan karena kurangnya pelatihan yang berhubungan dengan penatalaksanaan kegawatan pernafasan, misalnya pelatihan resusitasi. Kurangnya pengetahuan tentang konsep resusitasi dan tindakan resusitasi akan berdampak pada hasil akhir tindakan resusitasi berupa tidak tercapainya tujuan resusitasi yang dapat mengakibatkan kecacatan atau bahkan kematian.

 

5.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian, maka peneliti menyarankan:

 

5.2.1 Bagi Rumah Sakit

1.         Pihak rumah sakit bertanggung jawab memberikan fasilitas dan sarana yang memadai bagi tenaga keperawatan untuk meningkatkan pengetahuan keperawatan baik berupa pelatihan ataupun pendidikan berjenjang dalam rangka memberikan pelayanan yang prima kepada masyarakat.

2.         Ruangan yang mempunyai tingkat pelayanan kritis yang tinggi seperti ruang intensif disarankan perawat yang bekerja mempunyai pendidikan minimal DIII Keperawatan dan mempuyai sertifikasi untuk melakukan tindakan resusitasi.

5.2.2 Bagi Tenaga Profesi Keperawatan

Pengetahuan dan keilmuan keperawatan senantiasa mengalami kemajuan dan perubahan pesat sehingga untuk dapat memberikan pelayanan prima dituntut tenaga profesional, sehingga pengetahuan, sikap dan keterampilan perawat harus selalu ditingkatkan baik dengan mengikuti pelatihan atau pendidikan yang bersifat formal maupun nonformal.

 

5.2.3 Bagi Peneliti Selanjutnya

            Bagi calon peneliti selanjutnya, dapat meneliti tentang gambaran pelaksanaan tindakan resusitasi yang dilakukan oleh perawat pada neonatus yang mengalami kegawatan pernafasan di Ruang NICU maupun di Ruang Perinatologi.

 

 

About these ads

Posted on June 5, 2011, in Ilmu Keperawatan and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: